• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Travel
  • Contact Us

Arum's Blog

"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak"-Helvy Tiana Rosa

Kalau tulisan sebelumnya yang berhubungan dengan jahit menjahit merupakan hasil jahitan tangan sendiri, kali ini aku hanya ingin berkisah hasil jahitan salah seorang penjahit langganan mama di kampung yang akhirnya aku pun menjadi pelanggan setianya juga. Pertama kali aku menjahit baju seragam batik untuk di kantor. Saat mengetahui rekan-rekan kerja bisa menghabiskan uang sampai 200 sampai 500ribu hanya untuk ongkos jahitnya saja, menurutku itu berlebihan. Apalagi setelah mengetahui ongkos jahit di kampungku yang masih berkisar 50ribu. Hasilnya pasti beda, tapi tidak kalah jauh kok secara kualitas. Ini terbukti saat aku memakai baju hasil jahitan dari kampung dan mengabarkan ongkosnya yang amat sangat murah, rekan-rekan di kantor justru berkeinginan untuk menitipkan jahitan ke kampungku.

Dengan niat membantu menambah pelanggan si penjahit, maka aku bersedia membawa kain-kain milik teman-teman yang akan dijahit. Kain-kain tersebut aku bawa saat aku pulang kampung. Dan jika sudah selesai akan aku bawa ke Jakarta di kesempatan pulang kampung selanjutnya. (biasanya jadwal pulang kampungku rata-rata sebulan sekali). Selain membawa kain aku juga membawa contoh model baju yang diinginkan beserta ukurannya. Bagi teman-teman yang tidak tahu detail ukuran baju bisa membawa baju jadi yang sudah cocok ukurannya.

Aku tidak mengambil untung dari jasa ini. Memberitahukan harga ongkos jahit kepada teman-teman sesuai yang diberikan oleh tukang jahit. Biasanya sudah ada rincian biaya di setiap bajunya (ongkos jahit, harga tambahan kain, dll). 

Berikut beberapa hasil jahitan yang sempat didokumentasikan:
Maklum, bukan penual online jadi kualitas gambarnya kurang bagus. Tapi untuk semua teman-teman yang sudah menitipkan jahitan mereka puas dengan hasilnya. (gambar di atas hanya sebagian saja, yang lain tidak sempat di dokumentasikan).

Dan ini beberapa bajuku yang dijahit di kampung:





Jahit Menjahit
Terinspirasi dari sorang teman yang membuatkan rok tutu untuk anaknya. Awalnya aku tidak tau sebutan rok tutu tersebut. Setelah browsing kesana kemari aku mulai tertarik untuk membuatnya karena cukup simpel.

Baru menyadari sepertinya aku ada minat dalam hal kerajinan tangan khususnya jahit menjahit. Sempet menyesal karena sewaktu sekolah dulu ada kegiatan ekstrakurikuler tata busana, tapi tidak diikuti dengan serius. Sampai sekarang juga ga serius-serius amat sih ngejahitnya. heee

Setelah mencari tutorial pembuatan rok tutu, ternyata pembuatan tidak melibatkan jahit menjahit. Pertama siapkan bahan yaitu kain tile seperti gambar:
Kain tile merupakan kain yang bolong-bolong seperti jaring. Kain ini aku beli di salah satu toko kain di Pasar Minggu. Aku membeli 2 meter dengan harga Rp 20.000/meter. Sudah ditawar tetep tidak bisa. Sudah harga pas katanya. Atau mungkin aku yang tidak pandai menawar. Tapi memang kain yang aku beli kain yang jenisnya lebih halus. Kalau yang agak kasar harganya Rp 15.000/meter. Bahan lainnya adalah karet elastis.

Pertama potong-potong kain dengan panjang sesuai keinginan panjang rok. Lebarnya aku sih hanya kira-kira. Hihiiii,,, ketahuan kan kalau mulai ga serius dalam membuat kerajinan tangan.

Setelah itu kaitkan ke karet elastis (duhhh bingung ngejelasinnya. Lihat gambar aja ya...)
Kaitkan kain tile sampai karetnya tertutup semuanya. Bahan 2 meter sepertinya masih kurang soalnya jaraknya masih renggang. Setelah itu sambung ujung karet dengan cara menjahit (masih dengan tangan pastinya). Dan inilah hasilnya...
Meski kurang puas dengan hasilnya, tapi tetap istimewa....

Rok tutu ini dihadiahkan untuk ponakan. Semoga suka ya...







Rok Tutu
Ide membuat sarung bantal muncul secara tiba-tiba saat melihat sarung bantal kesayangan yang sudah mulai koyak. Sisa kain untuk membuat mukena waktu itu (baca kisahnya disini) sepertinya bisa dimanfaatkan.

Ide ini juga muncul saat membuat rundown acara untuk mengisi waktu liburan cuti tahunan. Dikarenakan gagal rencana jalan-jalan ke pulau seberang (digantikan dengan jalan-jalan bersama keluarga ke kota istimewa), jadilah aku memikirkan kegiatan yang bisa dikerjakan di sisa waktu cuti. Dari Jakarta sudah kusiapkan perlengakapannya seperti bahan kain katun sisa mukena, kain flanel, aneka benang, jarum dan perlengkapan menjahit lainnya. Sudah tergambar kreasi apa aja yang akan dibuat selama libur 5 hari.

Daaaannn... dari beberapa rencana itu hanya satu yang terealisasi, yaitu sarung bantal ala-ala kain perca. Hasilnya pun alakadarnya. Ini masih edisi menjahit dengan tangan. Taraaa....

Seperti apapun hasilnya kalau buatan sendiri, rasanya istimewa...(bacanya ala cibi-cibi ya.. hihiiii)
Sarung Bantal Kain Perca
Mungkin judulnya terlalu lebay....

Berawal dari kisah inspiratif seorang kakek yang menabung di celengan bambu bertahun-tahun yang akhirnya bisa menunaikan ibadah haji bersama istrinya, jadilah aku menyengaja pergi ke supermarket hanya untuk membeli dua buah celengan.
Si Pinky dan si Ijong
Si Pinky aku tempatkan di kamar dan si Ijong aku simpan di laci meja kantor. Karena waktuku lebih banyak dihabiskan di dua tempat tersebut. Dengan begitu diharapkan membiasakan menabung tidak akan terlewat setiap harinya.
Si Ijong bersanding dengan laporan penerimaan negara

Kegiatanku di pagi hari "memberi makan" si Ijong, ternyata mendapat perhatian dari rekan kerja dan katanya sih jadi pengin ikutan beli celengan. Selamat menabung, kawan...
Karena niat awal untuk mendisiplinkan diri menyisihkan "uang jajan" dan baru tahap belajar konsisten, jadi aku pilih si Pinky dan si Ijong yang memiliki tubuh imut. Ternyata, karena lagi semangat-semangatnya dan kebetulan mendapat dukungan juga dari teman-teman, ternyata dalam waktu dua minggu, si Pinky sudah mulai sesak dengan lembaran-lembaran rupiah. Jadilah terpikirkan untuk membeli celengan dengan ukuran yang lebih besar. Namun, dikarenakan konsep menabung adalah bagian dari hidup hemat, jadi kuurungkan niat untuk membeli celengan baru. Dan supaya semangat mendisiplinkan diri tidak luntur, aku pun bertekad untuk memiliki celengan baru yakni dengan cara membuat sendiri celengan kardus dengan bahan baku kardus snack rapat. Heeee...
Celengan dari kardus snack dengan sedikit polesan. 


Kardus Snack sebagai bahan baku celengan
Dengan bertambahnya celengan, semoga bertambah semangat dalam menyisihkan uang untuk ditabung. Meskipun saat ini sudah banyak jenis investasi yang lebih modern seperti yang ditawarkan oleh bank, namun aku tetap munyukai sistem menabung dengan celengan ini, terlihat klasik memang, tapi saya suka saya suka. Sebagai bentuk pembelajaran kedispilan menyisihkan uang setiap hari dan membudayakan menabung.
Melemahnya nilai tukar rupiah juga menjadi dasar tidak disarankannya berinvestasi dalam bentuk rupiah, namun apapun itu, aku tetap cinta rupiah (karena ga ada yang lain. Hihiiii)

Intinya celengan sebagai sarana pembelajaran kedisiplinan dan menumbuhkan budaya menabung. Tabungan untuk masa depan. Dan tabungan yang sesungguhnya adalah tabungan untuk akhirat dengan menyisihkan harta untuk membayar zakat, infak dan shadakoh.

Selain menyisihkan uang untuk ditabung dalam celengan, aku juga berusaha untuk menabung amal kebaikan (semoga dicatat oleh Allah sebagai amal baik) dengan menyisihkan waktu untuk anak-anak yang membutuhkan teman belajar.

Menyisihkan waktu istirahat untuk sekedar menemani mereka belajar.
Menyisihkan waktu di hari libur untuk mengajak shalat berjamaah dan tilawah di masjid.
"Masalahnya bukan pada berapa besar investasi yang Anda lakukan, tapi berapapun yang diinvestasikan hari ini akan sangat berguna di masa depan", dikutip dari buku Make Your Own Plan! Karya Pandji Harsanto, SE,CFP, CHt

Bang bing bung yoook kita nabung
Tang ting tung, hey jangan dihitung
Tau tau kita nanyi dapat untung
...

Investasi Masa Depan
Salah satu tradisi di Indonesia saat merayakan HUT RI, yakni dengan mengadakan berbagai perlombaan. Tahun ini tanggal 17 Agustus jatuh pada hari Senin. Jadi lumayan bisa menikmati libur panjang. Dan "tujuhbelasan" tahun ini akan akan aku rayakan di Kebumen. Tradisi di desaku sendiri biasanya adalah upacara bendera di lapangan olahraga desa. Upacara ini merupakan gabungan dari warga sekolah dasar dan warga madrasah ibtidaiyah beserta para pamong desa. Setelah upacara biasanya dilanjutkan dengan pawai keliling desa dan perayaan beberapa perlombaan. 
Minggu, 16 Agustus 2015 merupakan hari pertamaku di rumah. Seperti biasa adikku selalu menanyakan agenda apa yang akan dilaksanakan untuk menghabiskan liburan di rumah. Dan saat itu muncul ide untuk mengadakan perlombaan  di halaman rumah untuk para ponakan dan anak-anak tetangga sekitar. Ide itu baru muncul sekitar jam 9 pagi. Setelah itu, kami segera membuat konsep acara. Setelah disepakati, perlombaan akan dimulai sekitar pukul 11 siang. Jadilah kami langsung meluncur ke Rita Pasaraya untuk membeli perlengkapan lomba beserta hadiahnya.
Acara belanja ternyata memakan waktu yang tidak sedikit. Meleset dari jadwal yang ditentukan. Akhirnya perlombaan dimulai sekitar pukul 11.30. Sebelumnya kami hanya mendata ponakan dan anak-anak tetangga dekat sekitar 16 anak. Ternyata anak-anak yang jauh pun berantusias mengikuti perlombaan. Total peserta sebanyak 23 anak. Kewalahan menghandle peserta sebanyak itu, akhirnya kami meminta bantuan kepada ponakan yang sudah duduk di bangku SMA untuk menjadi panitia kecil. Ya, itung-itung supaya mereka belajar mengorganisir.
Panitia sedang menyiapkan perlengkapan lomba.
Karena suasana yang sudah gaduh, perlombaan pun segera dimulai. Lomba pertama yang diadakan adalah lomba mewarnai. Setelah semua peserta dibagikan kertas gambar dan disediakan crayon serta pensil warna, mereka pun langsung mengekspresikan jiwa seninya. Suasana lumayan tenang, mereka bener-bener fokus mewarnai, berlomba untuk mendapatkan karya terbaik untuk memperebutkan juara.
Suasana lomba meearnai.
Lomba yang kedua adalah lomba merangkai puzzle. Perlombaan yang kami adakan memang bertema edukatif. Berbeda dari lomba yang sudah khas tujuhbelasan. Merangkai puzzle mampu merangsang kognitif dan  melatih pola pikir anak. Meskipun kecil, semoga mampu berpartisipasi dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. Dalam perlombaan puzzle ini dilakukan oleh tim. Awalnya karena keterbatasan puzzle yang disediakan panitia. Akhirnya perlombaan ini kami desain supaya anak belajar berkelompok, bekerja sama dan saling berkoordinasi. Disini panitia berperan dalam pembagian kelompok. Peserta dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok anak besar dan kelompok anak kecil. Kelompok anak besar merupakan kelompok anak kelas 3,4,5 dan 6. Sedangkan kelompok anak kecil adalah mulai dari PAUD sampai kelas 2 SD. Masing-masing kelompok dibagi dalam 2 tim yang akan saling bersaing.
4 Tim sedang bekerja sama merangkai puzzle.
Lomba sekanjutnya adalah lomba merangkai huruf untuk kelompok anak besar dan lomba meniup balon untuk kelompok anak kecil. Kedua lomba ini juga merupakan lomba antar tim. Aturan main lomba merangkai huruf adalah sebagai berikut.. Setiap tim akan mendapatkan soal dari panitia. Masing-masing tim akan berbagi tugas. Ada yang bertugas sebagai pemegang kertas karton yang akan dijadikan tempat untuk menempelkan huruf. Ada yang bertugas menjawab pertanyaan. Cara menjawab pertanyaan nya adalah dengan memgambil potongan-potongan huruf yang sudah diacak, jika sudah ditemukan satu huruf yang dicari untuk merangkai jawaban, peserta akan lari ke arah kertas karton. Hal ini dilakukan secara estafet antar anggota tim satu demi satu huruf.
Lomba merangkai huruf.
Lomba meniup balon bagi kelompok anak kecil pun tak kalah seru. Setiap tim mendapatkan 10 balon yang akan ditiup oleh masing-masing anggota tim. Tim yang tercepat dan terbanyak serta ukuran yang lebih besarlah yang akan menjadi pemenang.

Lomba selanjutnya adalah lomba menghias tongkat bendera. Persyaratan lomba ini adalah peserta wajib membawa sendiri tongkatnya. Panitia hanya menyediakan hiasan dari kertas krep dan perlengkapan lain seperti lem dan gunting sebagai sarana menghias tongkat tersebut. Tongkat bendera tersebuta yang nantinya akan digunakan dalam acara pawai keliling desa.

Lomba menghias tongkat bendera adalah lomba terakhir. Sambil menunggu tim juri menentukan juara, peserta diminta untuk menuliskan nama beserta cita-citanya dalam sebuah kertas. Dan kertas-kertas tersebut akan ditempelkan dalam pphon harapan.

Setelah timjuri selesai menilai, maka segera diumumkan para juaranya. Dan semua peserta adalab juara, semuanya hebat. Namun, pasti ada diantara peserta yang berkarya lebih baik, dan panitia pun mengapresiasi lebih. Jadi pesanku untuk semua peserta, tetep semangat untuk menjadi lebih baik.

Demikianlah rangkaian acara perlombaan dalam rangka merarayakan HUT RI ke 70. Semoga apa yang sudah dilakukan bisa menambah wawasan adik-adik, menumbuhkan jiwa patriotis yang penuh semangat dalam meraih cita-cita. Dan semoga kegiatan semacam ini akan terus berlanjut sebagai upaya membangun desa. Meskipun, saat ini aku hidip di tanah rantau, namun aku akan berusaha untuk memajukan desaku dengan caraku yang aku mampu. Semoga selalu bisa berbagi senyuman dalam setiap pertemuan di kampung halaman.

Ini caraku merayakan kemerdekaan. Kalau kamu???

Salam,
17 Agustus 2015, dalam Kereta Sawunggalih Malam menuju Jakarta.
Semarak Tujuhbelas Agustus
Senin, 27 Juli 2015 : Kehilangan
Hari pertama masuk kerja setelah cuti lebaran. Episode baru dimulai ketika aku sadar saat memasuki ruang kerja yang lengang. Ya, aku tersadar bahwa dua kakak seniorku telah meinggalkan ruangan ini demi tugas barunya di kantor baru. Dua kakakku itu, Mba Eka dan Mas Nando mendapatkan promosi menjadi Account Representative (AR). Mereka yang digadang-gadang oleh atasan kami sebagai ujung tombak penerimaan negara. Apalah jadinya kami, yang ditinggalkan oleh pegawai terbaik yang menjadi kebanggaan dan tumpuan. Dan apa jadinya pula, aku yang bagaikan anak bungsu, ditinggalkan dua kakak yang selama ini membimbing dan mengayomiku, belum sempat belajar banyak. Sebelumnya aku lebih dulu ditinggalkan oleh kakak pertama, Mas Leo yang mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu ke luar negeri. Aku memang merasa kehilangan kakak-kakak terbaik, namun aku menemukan inspirasi dari mereka. Semoga aku bisa mengikuti jejak-jejak prestasi yang sudah mereka raih.
Perpisahan Mba Eka dan Mas Nando

Meskipun sedih, sendiri, tugas yang biasanya dikerjakan tiga orang harus dituntaskan seorang diri, berat dirasa, but life must go on (ceilaaahhh..). Hari ini harusnya aku menggantikan Mas Nando untuk mengikuti kegiatan penyususnan Laporan Keuangan Semester 1. Namun, karena harus meng-handle pekerjaan rutin, maka aku masih absen dari kegiatan tersebut. Aku pun larut dalam tugas demi tugas. Kesibukan itu mampu menghapus kesepian karena ditinggal oleh dua kakakku. Namun, tidak menghapus episode kehilangan. Sekitar pukul 14.30, hp  ku bordering, tertera nomor rumah di layar. Segera kuangkat. Terdengar suara isak tangis dari Mba Umi (kakak sepupu, bersamanya aku tinggal selama di Jakarta). Mba Umi mengabarkan bahwa bapaknya, Bp Taufik  Affandi telah meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Dan aku benar-benar kehilangan….
 
Alm Bp Taufik Affandi
Selasa, 28 Juli 2015 : Peran
Mendengar kabar duka itu, Mba Umi memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman sore itu juga. (Baru sampai Jakarta hari Jum’at, 24 Juli 2015 setelah mudik lebaran). Mba Umi pulang beserta suami dan anak bungsunya. Anak sulungnya masih di kampung untuk menghabiskan libur kuliahnya, anak kedua telah kembali ke pondok pesantren. Jadilah aku ditinggal beserta anak ketiganya yang tidak bisa ikut karena baru saja masuk tahun ajaran baru di sekolahnya.
Malam itu kulewati bersama ponakan yang mengajak ketiga temannya untuk menginap. Inilah episode baru, berperan menjadi ibu asuh untuk ponakan dan ketiga temannya. Saat malam menjelang, memastikan mereka untuk belajar dan tidur tidak terlalu larut. Tengah malam aku terjaga, terlalu khawatir mengemban amanah menjaga anak orang lain. Saat Adzan Subuh berkumandang aku pun segera membangunkannya untuk mengajaknya sholat Subuh berjamaah. Setelah itu mengajari mereka untuk segera merapikan tempat tidur dan membantu merapikan rumah. Saat mereka mandi dan bersiap ke sekolah, aku menyiapkan sarapan. Ahhh,,,, aku menjalankan peran ibu di rumah.
Serasa di penampungan. hihiiiii....

Aktivitasku berjalan seperti biasa. Berangkat kerja, megerjakan tugas rutin membuat Evaluasi Kinerja Penerimaan Negara (terdengar keren bukan???). Dan hari ini aku mendapat tugas menyiapkan bahan presentasi untuk Rapat Pembinaan Eselon 3. Di hari kedua Penyusunan Laporan Keuangan ini aku pun masih absen, karena aku berperan sebagai asrot dalam rapat tersebut. Jadilah seharian terisolir dalam ruang rapat. Disela-sela jam istirahat, teringat peranku di rumah. Segera menyempatkan untuk menelpon ke rumah mengontrol ponakan untuk makan dan sholat pada waktunya.
Suasana Rapat

Rabu, 29 Juli 2015 : Berjuang
Setelah absen dua hari, aku menyempatkan untuk menghadiri acara Penyusunan Laporan Keuangan. Episode baru dimulai. Aku yang belum berpengalaman dalam kegiatan yang diadakan setiap semester ini, tidak sempat belajar dengan kakak-kakak seniorku. Mutasi Mba Eka dan Mas Nando begitu mendadak, dan ternyata mereka pun belum pernah mengikuti kegiatan tersebut. Mas Leo yang rutin mengikuti selama empat tahun itu sekarang sudah jauh, tidak mungkin lagi untuk belajar secara langsung dan mendetail. Jadilah aku seperti anak ilang di tengah-tengah peserta Penyusun Laporan Keuangan yang mewakili Kantor Wilayah Ditjen Pajak seluruh Indonesia. Aku bertanya kepada rekan-rekan satu kantor maupun teman dari kantor lain yang aku kenal. Dan disini aku benar-benar berjuang menyusun laporan penerimaan negara.  

Kamis, 30 Juli 2015 : Larut
Hari ini merupakan hari terakhir penyusunan Laporan Keuangan. Dan pekerjaanku masih berantakan. Perlahan aku pelajari teknis penyusunannya. Dan menjelang sore aku baru mereview pekerjaanku dengan petugas dari kantor pusat. Bolak-balik merevisi pekerjaan, hingga akhirnya menjelang magrib laporan penerimaan negara terselesaikan. Di ruangan ini waktu terasa begitu cepat, aku pun larut dalam pekerjaan. Sampai batas waktu yang ditentukan yakni pukul 20.00, pekerjaanku belum selesai. Karena masih banyak dari kantor lain yang belum selesai juga akhirnya panitia memberikan jam tambahan. Aku merasa bertanggung jawab dengan pekerjaanku di kantor dan peranku di rumah. Karena malam ini dijadwalkan pulang larut, maka kutitipkan ponakan untuk tidur dirumah temannya.
Karena begitu larut dalam penyusunan Laporan Keuangan, aku baru tahu kalau hari ini telah resmi keluar Instruksi Dirjen Pajak mengenai penambahan jam kerja bagi seluruh pegawai di lingkungan kantor pajak, yakni pulang jam 19.00 WIB. Dengan adanya instruksi ini, aku mulai memikirkan apakah terus memaksakan untuk berkarier di kantor ini??? Yang pasti, saat ini aku menjalankan tugasku sebagai wanita karier sekaligus berlajar menjalankan peran sebagai ibu di rumah.

Jum’at, 31 Juli 2015 : Selalu Ada Hikmah
Adzan subuh berkumandang, sungguh mataku masih ingin terpejam, karena tidur baru sebentar. Setelah nyawa terkumpul, segera kujemput ponakan di rumah temannya. Rutinitas pagi pun dimulai. Saat bersiap berangkat ke kantor, mendapat informasi kalau kantor mengalami musibah kebakaran. Sempet ragu untuk berangkat, karena efek mengantuk juga. Namun, karena ada informasi bahwa absensi tetap berjalan normal, maka aku pun memaksakan untuk tetap berangkat karena aku pun punya kewajiban untuk menyelesaikan laporan keuanganku.
Sesampainya di kantor, suasana sangat gaduh. Semua pegawai berkumpul di lapangan dan memenuhi lobby kantor. Aktivitas kerja tidak bisa berjalan karena saluran listrik terputus. Kira-kira pukul 8.30 diinformasikan bahwa kantor diliburkan demi keamanan. Aku tidak langsung pulang karena masih memiliki tanggungan. Setelah ada kesepakan dari tim penyusun Laporan Keuangan bahwa pekerjaan dilanjutkan hari Senin, aku langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah aku bisa bercakap dengan ponakan yang sudah pulang sekolah dan mengobrol dengan tetangga. Aktivitas yang sulit kudapatkan ditengah kesibukan kerja. Aku pun memiliki kesempatan untuk tidur siang. Oh nikmatnya. Selalu ada hikmah dari setiap musibah. Khususnya bagi diriku.

Sabtu, 1 Agustus 2015 : Happy Ending
Libur. Aktivitas di hari libur adalah diawali dengan berolahraga, mengerjakan pekerjaan rumah yang tertunda selama hari kerja daaaannnn saat nya mengajak ponakan jalan-jalan. Setelah merasa bersalah meninggalkannya selama seminggu dengan pulang malam terus, aku menyempatkan untuk menghabiskan waktu bersama ponakan beserta teman-temannya.







Episode Minggu Ini
Senin, 6 Juli 2015 di lingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak(KPDJP) telah resmi dibuka Bazar Ramadhan. Acara diresmikan oleh Dirjen Pajak, Bpk Sigit Priadi Pramudito sekitar pukul 11.00 WIB. 
 Ada sekitar 50-an stand dalam bazar tersebut. Bersama teman-teman di Kanwil DJP Jakarta Khusus, kami ingin berpartisipasi meramaikan bazar dengan menyewa dua stand yang bernomor 34 untuk stand pakaian, mukena dan dll dan stand bernomor 48 untuk stand makanan. Stand bernomor 34 sudah aktif dari awal pembukaan. stand yang dipelopori oleh Mas Dwi dan Mba Eka menyediakan aneka gamis syar'i, pakaian anak-anak dan mukena. Sedangakan stang bernomor 48 masih belum ada aktivitas. Aku yang harusnya ikut berpartisipasi mengisi stand tersebut mengundurkan diri di hari pertama karena partnerku yaitu Mba Vivin dan Mba Anggi masih belum mempersiapkan dagangannya. Jadilah aku "membuka lapak" di meja kerja. 


Dari hasil menawarkan kepada teman-teman di ruangan, Alhamdulillah laris manis. Dari semua makanan yang aku tawarkan masing-masing telah memiliki pelanggannya masing-masing. 
Keripik Singkong bermerk "Cokoten". Keripik ini disupplay dari temen yang sedang merintis bisnis. Akar kelapa, semacam stik keju yang merupakan produksi kakak sepupuku. Abon Ikan Selaras, sebagai solusi untuk Anda yang ingin menikmati olahan ikan dengan versi yang tidak biasa atau bagi Anda yang ingin menikmati abon yang tidak biasa.

Selamat berbelanja...

Bazar
Marhaban ya Ramadhan

Teringat sebuah hadist:
“Barangsiapa yang bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan niscaya Allah mengharamkan jasadnya dari neraka” (Al Hadist)

Beberapa ulama mengatakan bahwa hadist tersebut adalah hadist palsu. Namun demikian tidak berarti seorang muslim tidak dianjurkan bergembira dengan kedatangan bulan suci Ramadhan, bahkan sudah sepatutnya Ramadhan yang merupakan keutamaan dan rahmat yang Allah datangkan kepada kita disambut dengan kesyukuran dan penuh suka cita yang dibuktikan dengan memperbanyak amal sholeh di dalamnya. Allah Azza wa Jalla berfirman (artinya), Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus ayat 58).

Dan ini kisahku menyambut datangnya bulan penuh berkah itu,

Berawal dari maraknya penjualan mukena berbahan katun Jepang yang ditawarkan teman-teman. Aku pun berkeinginan untuk memilikinya. Namun, ternyata harganya lumayan mahal. (Padahal untuk ibadah, masih saja perhitungan). Sebelum membeli, sempet browsing dulu untuk menentukan model seperti apa yang akan dibeli sekaligus survey harga. Di saat-saat pencarian itu, muncul lagi ide baru yang lebih waw dari rekan kerja sebut saja Mba Eka, yang memiliki ide membuat mukena sendiri. Ide itu muncul karena Mba Eka baru saja membeli mesin jahit dan merencanakan produk pertamanya adalah mukena. Ide dari Mba Eka sangat menginspirasi, tapi aku kan tidak ada mesin jahit di rumah. Hemmmm,,,. Namun, aku tidak kehilangan akal, aku akan tetep membuat mukena sendiri dengan cara jahit tangan. Sempet ragu juga, apa sanggup??? Akhirnya dengan motivasi dari diri sendiri, bahwa mukena itu akan aku pakai di malam pertama Ramadhan, maka aku pun bertekad untuk menjahit dengan tangan, sebagai hadiah di bulan Ramadhan tahun ini.

Bahan untuk atasan (katun Jepang motif bunga) di dapat dengan berbelanja online di Akibo Shop. Harga Rp 33.000 per meter. Untuk atasan saya membutuhkan 2 meter.
Ukuran bahan 1m X 1,15m.
Bahan Katun Jepang Motif Bunga

Untuk membuat pola atasan, saya menggunakan teknik menjiplak mukena yang sudah jadi.
Membuat Pola Atasan
Dan ternyata sangat-sangat diperlukan ketekunan dan ketelitian plus kesabaran dalam menjahit dengan tangan.

Menjahit dengan tangan


Bahan (untuk bawahan) akhirnya beli sendiri ke Pasar Minggu, karena awalnya sempat terjadi salah kirim bahan dari pihak Akibo Shop, jadi terpaksa harus me-matching-kan warna. Bahan katun Jepang polos dengan ukuran 1m X 1,5m dengan harga Rp 40.000. Dan saya membeli 2 meter.

Bahan pendukungnya adalah renda (Rp 5.000,-/meter) dan benang.


Kalau dihitung-hitung sih, modalnya hampir sama jika kita membeli mukena jadi. Tapi, kalau buatan sendiri terasa lebih ”istimewa”. Dan inilah hasil karya nya......



Alhamdulillah mukena baru, semoga menambah semangat baru dalam beribadah. Amiin
Terima kasih Mba Eka atas inspirasinya. Terima kasih Ibu Tatiana atas tutorial menjahitnya.

Semangat Baru Menyambut Ramadhan
Libur panjang di awal Mei 2015 sengaja tidak pulang kampung. Dan liburan kali ini terasa berbeda. Berawal dari mengikuti pendaftaran di komunitas 1000 Guru Tangerang untuk ikut dalam program Traveling & Teaching. 
Apa itu Traveling & Teaching (TNT)??? Jalan ke tempat-tempat menarik di pelosok nusantara sambil mengajar dan berbagi dengan anak-anak pedalaman.
Waw... itu sangat menarik perhatianku.
TNT kali ini diselenggarakan di MI Nurul Falah, Rajeg, Kab. Tangerang dan Pulau Tunda.
Inilah rekam jejak Traveling & Teaching...

Rangkaian acara diawali dengan teaching, 2 Mei 2015 bersamaan dengan peringatan hari Pendidikan Nasional.

Foto bersama di base camp 1000 Guru Tangerang. Base camp nya beranama Rumah Tawon. Berupa rumah singgah yang digunakan para anggota komunitas 1000 Guru Tangerang untuk berbagi kepada anak-anak dan warga sekitar Batu Ceper - Tangerang yang ingin belajar .

Aku tergabung dalam Team TNT kelas 1. Bertugas untuk berbagi ilmu dan inspirasi seputar profesi sehari-hari di kelas 1 MI Nurul Falah.


Foto bersama usai kegiatan belajar. Team 1000 Guru bekerja sama dengan Komunitas Pecinta Satwa Liar(KPSL)
Acara teaching selesai dilanjutkan perjalan traveling ke Pulau Tunda. Untuk ke Pulau Tunda dibutuhkan waktu kira-kira 3 jam (plus macet) dari MI Nurul Falah ke dermaga Karangantu. Selanjutnya perjalanan dengan perahu dari Karangantu ke Pulau Tunda selama 2 jam. Kami tiba di Pulau Tunda kira-kira jam 19.00 WIB. 
Malam hari dihabiskan untuk sharing pengalaman teaching di MI Nurul Falah, nonton bareng video kegiatan 1000 Guru Tangerang dan diakhiri menerbangkan lampion di pantai.


Pagi hari nya diawali dengan melihat sunrise.
Bersih-bersih pantai.
Sarapan bersama. Beginilah suasana makan selama di Pulau Tunda.
Lanjut Snorkeling.



Persiapan pulang ke base camp Rumah Tawon-Tangerang.

Terima kasih kepada teman-teman peserta TNT 3 dan panitia atas kebersamaannya. Semoga yang sudah kita lakukan membawa keberkahan untuk semua.


Traveling & Teaching
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

LATEST POSTS

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...
  • Duktek on Vacation, Edisi: Trip to Dieng
    Bermula dari obrolan ringan bersama seorang teman yang sangat ingin menikmati berlibur dengan menggunakan kereta api jarak jauh yang akhirny...
Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

  • Abdullah Mabruri
  • Kuliah Online

About Me

Foto saya
Arum Anggraeni
Orangnya sederhana aja yang ingin menulis hal-hal yang sederhana juga. Mencoba menulis untuk menyalurkan naluri kewanitaannya yang secara kodrati mampu menghasilkan 20.000 kata perhari. Semoga kata-kata tersebut tidak terbuang percuma, harapannya bisa memberikan manfaat.
Lihat profil lengkapku

Follow Us @arum.anggraeni

Followers

Featured Posts

Menu

  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Seo Services
  • Documentation
  • Download This Template

Archive

  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember 2019 (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (1)
  • ►  2016 (24)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (4)
    • ►  Juli 2016 (2)
    • ►  Juni 2016 (4)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (4)
    • ►  Januari 2016 (2)
  • ▼  2015 (11)
    • ▼  November 2015 (3)
      • Jahit Menjahit
      • Rok Tutu
      • Sarung Bantal Kain Perca
    • ►  September 2015 (1)
      • Investasi Masa Depan
    • ►  Agustus 2015 (2)
      • Semarak Tujuhbelas Agustus
      • Episode Minggu Ini
    • ►  Juli 2015 (1)
      • Bazar
    • ►  Juni 2015 (1)
      • Semangat Baru Menyambut Ramadhan
    • ►  Mei 2015 (1)
      • Traveling & Teaching
    • ►  April 2015 (2)
  • ►  2014 (10)
    • ►  Oktober 2014 (2)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juli 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (2)
    • ►  Mei 2014 (2)

THE LIFESTYLE

Find us on Facebook

Pages

  • Beranda

About Me

Popular Posts

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...

Advertisement

Copyright © 2015 Arum's Blog. Designed by OddThemes