• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Travel
  • Contact Us

Arum's Blog

"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak"-Helvy Tiana Rosa

Sudah hampir seminggu, janji itu belum kupenuhi. Sebuah janji: mengirimkan kartu pos yang ditulis anak-anak di Desa Murtirejo, Kebumen yang ditujukan kepada Presiden RI , dengan cara me-mention akun beliau di media sosial.

Kartu pos itu masih tertumpuk diantara dua buku yang (ingin) selesai dibaca di hari libur akhir tahun ini. Masih memilah-milah isi surat mana yang akan diposting di media sosial karena hampir semua isi suratnya memiliki tema yang sama: permintaan.

Oya, surat ini ditulis dalam rangka lomba mengisi liburanku saat pulang ke kampung halaman yang bertepatan dengan liburan sekolah bagi anak-anak disekitaran rumah. Sebuah perlombaan, namun tidak ada yang kalah dan menang, karena semua juara, semua hebat, semua mendapat hadiah, semua bersuka ria.

Karena keterbatasan waktu yang aku miliki (meski di hari libur seperti saat ini), akhirnya aku mengambil beberapa kartu pos yang semoga bisa mewakili isi hati anak-anak di usia sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas serta ada satu surat dari orang tua yang ikut menulis karena anaknya tidak bisa bergabung saat perlombaan. Dan inilah isi surat tersebut:

1. Silvia Anggun Elviana (siswi Madrasah Ibtidaiyah setara Sekolah Dasar) 
Assalamu'alaikum. Salam hormat kepada Bapak Presiden RI yang saat ini menjabat sebagai pemimpin Indonesia dengan jujur dan adil. Saya minta sepeda baru sama HP. Ibu saya tidak mempunyai uang. Pekerjaan ibu saya buruh. 

2. Tri Murniati (siswi Madrasah Tsanawiyah setara Sekolah Menengah Pertama) 
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Salam hormat saya ucapkan kepada Bapak Presiden RI yang saat ini menjabat sebagai pemimpin Indonesia dengan jujur dan adil. Semoga Bapak selalu diberi perlindungan oleh Allah SWT. Dengan datangnya surat ini saya memohon kepada Bapak Presiden Joko Widodo
"Kapan Bapak datang ke kota/desa kami? "
Demikian surat ini saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb

3.  Ika Rizqiyani Yuniarsih (siswi Sekolah Menengah Kejuruan) 
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
Salam hormat pada Bapak Presiden RI yang telah banyak berjasa pada negeri ini. Pertama-tama saya ucapkan terima kasih untuk Bapak. Kedua, saya hanya ingin bercerita pada Bapak. Kalau boleh saya meminta sesuatu, saya ingin mempunyai HP baru karena sudah lebih 3 tahun saya tidak punya HP, Pak. Dan saya ingin sebuah laptop untuk membuat novel karena saya sangat suka menulis cerita dan saya ingin menerbitkannya. 
Terima kasih. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

4. Lutfiah Khaerunisa (ibu rumah tangga dengan pekerjaan sambilan sebagai buruh pabrik genteng) 
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 
Salam hormat kepada Bpk. Presiden RI yang saat ini menjabat dan memimpin Indonesia dengan jujur adil dan ma'mur. 
Dengan ini saya sangat minta, mohon kepada Bapak Presiden RI Joko Widodo saya mau minta permintaan: saya orang tidak mampu minta bantuan uang buat bayar sekolah. Saya ucapkan terima kasih kepada Bpk Presiden RI Joko Widodo atas bantuannya. 
Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Beberapa kartu pos pilihan


Itulah surat-surat pilihan yang mewakili dari masing-masing jenjang usia. Surat-surat yang lain sebagian besar berisikan permintaan sepeda. Mungkin karena mereka sering melihat di TV, kebaikan Bapak Presiden membagi-bagikan sepeda saat kunjungan ke beberapa daerah sebagai hadiah karena sudah berhasil menjawab pertanyaan. Pertanyaan yang paling fenomenal : sebutkan jenis-jenis ikan. Mungkin mereka juga melihat tayangan infotainment , seorang artis cantik Raisa yang juga mendapat sepeda dari Presiden RI. Hal inilah yang mungkin memberikan ide bagi mereka ketika diminta menuliskan surat untuk Presiden. Padahal ide awal diadakan lomba ini adalah ingin membangun budaya literasi bagi anak-anak, membiasakan anak untuk lebih banyak membaca, dan menuangkan rasa dengan menuliskannya. Dan itulah perasaan yang ada di dalam hati mereka. Isi surat tersebut sekaligus menggambarkan keadaan ekonomi sebagian besar keluarga di desa kami.

Membaca surat-surat mereka (meskipun ditujukan untuk Bapak Presiden), melihat kegembiraan mereka saat mengikuti lomba, dan adanya permintaan untuk mengadakan kegiatan yang sama di liburan selanjutnya membuatku berpikir ulang saat adanya ajakan teman untuk mengisi liburan dengan travelling ke beberapa destinasi menarik. Tiket pesawat dan kereta, biaya sewa mobil,  menginap di hotel, mencicipi kuliner khas setiap daerah, menjadi sesuatu yang ironis untuk diceritakan dihadapan anak-anak desa. Berlibur dengan berbagi senyuman bersama anak-anak di desaku mungkin akan lebih mengesankan.

Dan pada kesempatan kali ini, melalui blog ini,  saya pun terinspirasi untuk menuliskan surat untuk Bapak Presiden yang isinya juga terinspirasi dari kartu pos di atas: permintaan.

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Bapak Presiden yang saya hormati, jika Bapak akan melakukan kunjungan kerja ke Papua Barat, khusunya Sorong, sekiranya Bapak mengizinkan saya untuk menumpang Pesawat RI-001. Saya terdorong untuk berkunjung kembali ke Sorong karena adanya pesan singkat yang dikirimkan oleh salah satu siswa di Sorong yang pernah saya ajar ketika saya menjadi relawan pengajar setahun yang lalu. 
Saya juga terpesona oleh video yang Bapak unggah melalui YouTube tentang keindahan alam di Raja Ampat. Sama seperti yang Bapak rasakan, saya pun ingin kembali menikmati pesona "raja-raja" disana. 
Demikian surat dari saya. 
Wassalamu'alaikum Wr. Wb


Salam hormat, 
Arum Anggraeni 

Pesan dari Sorong

Surat untuk Presiden RI
Disuatu pagi, dalam kelas Bahasa Indonesia di SLTP Negeri 3 Kebumen (hayo tahun berapa ini kala penyebutannya masih eseltepe??? 😄). 

Menulis karangan yang sudah ditentukan tema, kerangka karangan, jumlah minimal halaman, dll bagi sebagian orang merupakan tugas yang mudah dan menyenangkan, tapi tidak bagiku. Aku akan menghabiskan waktu berlama-lama merenung, mencoba merangkai cerita dari kerangka yang sudah tersedia, tapiiiii.... tidak banyak kata yang mampu aku tuliskan pada akhirnya. Akan banyak noda putih dari tipex karena setelah ditulis dan dibaca ulang terasa janggal, tulisan dengan font size besar, spasi lebar-lebar dengan tujuan memenuhi persyaratan jumlah minimal halaman. Ya, itulah diriku yang belum ada rasa ketertarikan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia terutama mengarang. 

Tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia kali  ini tidak serumit mengarang pada soal ujian akhir semester di nomor romawi paling akhir seperti biasanya, kali ini kami hanya diminta untuk menuliskan cita-cita berikut alasannya. Simple, bagi sebagian orang. Lihat saja teman-temanku yang sudah memulai memenuhi setengah lembar kertas hvs yang dibagikan. Lalu tengoklah diriku, yang justru berlari menuju masa kecilku.

....................  
Hidup di desa pinggiran Kebumen,  hanya ada seorang yang melayani kesehatan untuk seluruh penduduk desa yang membutuhkan pertolongan. Kami memanggilnya Bu Honim, Ibu Bidan kami yang cantik. Melihat kehebatannya memberikan pelayanan kesehatan, membantu pengobatan orang sakit dan ibu-ibu yang akan melahirkan, membuatku takjub. Dan inilah yang memberiku ide ketika ditanya, "Apa cita-citamu?"  Menjadi Bidan. 

Seiring berjalannya waktu, cita-cita itu memudar oleh kenyataan, bahwa aku takut jarum suntik, darah dan anti obat. Saat itu, di SD kami sedang ada suntik masal imunisasi cacar. Ada bisikan dari kakak kelas bahwa jika sudah duduk di kelas enam maka ketika disuntik akan ditusuk sampai ke tulang. Aku yang masih duduk di bangku kelas satu termakan oleh bisikan jahil sang kakak kelas dan membayangkan betapa sakitnya jika disuntik sedalam itu lalu sempat terucap, "aku tidak mau melanjutkan sekolah sampai kelas enam". Betapa ucapan seseorang yang lebih senior itu sangat didengarkan oleh juniornya. Peristiwa ini memberiku pelajaran yang sangat berharga. 

Menjadi bidan sudah tidak terlintas lagi olehku ketika ditanya apa cita-citaku. Pak Pos yang datang ke rumah membawa pesan cinta dari Bapak di Jakarta atau membawa wesel yang selalu membuat Mamak tersenyum bahagia mulai menarik perhatianku. Apalagi ketika Mamak mengajakku ke kantor pos, melihat para pegawai berseragam rapi, bekerja dengan cekatan.  Maklum kalau di desa hanya melihat Pak Tani dengan cangkul dan rantangnya atau para pekerja pabrik genteng yang hanya memakai kaos oblong sambil bersepeda pulang dan pergi bekerja melintasi depan rumahku. Hemmm... Aku ingin seperti Pak Pos, penyambung kabar kepada sanak kerabat nun jauh disana. Lihatlah... Betapa dunia anak itu mudah terinspirasi. (semoga ini tidak hanya terjadi di diriku saat itu, tetapi juga pada kids jaman now, semoga mereka mudah terinspirasi oleh hal yang positif 😄) 
..........................

Lamunanku terhenti, lalu tergagap karena sudah saatnya mengumpulkan tugas, tapi kertasku masih kosong. Entah kekuatan dari mana, tangan dan bolpoin pada akhirnya kompak menuliskan "Menjadi guru. Ingin turut mencerdaskan kehidupan bangsa". Sangat klise. Anggap saja aku siswi yang setiap pelaksanaan upacara begitu hidmat meresapi sehingga hafal salah satu kalimat dalam teks Pembukaan UUD 1945. 😆. Kenapa menjadi guru? Bisa jadi doa Mamak tentang keinginan memiliki suami atau keturunan seorang guru lebih diijabah oleh Allah. Ditambah lagi disaat kepepet itu jelas terlihat di depanku wajah Pak Wahyudi, guru Bahasa Indonesia, yang menurutku luar biasa. Ketika beberapa guru mengungkapkan curahan hatinya tentang  gajinya yang kecil, tanggung jawab yang besar mendidik generasi bangsa dan beberapa hal lain yang dirasa kurang oleh beberapa guru, Pak Wahyudi dengan tegas menyatakan betapa bangganya menjadi guru, bahwa guru tetaplah lebih pintar dari anak muridnya yang sudah berhasil menjadi orang hebat di luar, bahwa pahala seorang guru akan mengalir walaupun kelak sudah tiada. Dan terlebih, aku terpesona saat beliau menyita gitar yang sedang dimainkan salah seorang dari kami saat jam kosong tidak ada guru, lalu Pak Wahyudi memetik senar gitar itu sambil menyayikan lagu Hymne Guru, begitu menyentuh. 

Di pelajaran Bahasa Indonesia hari berikutnya, aku dibuat kaget oleh Pak Wahyudi yang memanggilku dan membacakan cita-citaku beserta alasannya. Setelah itu aku diminta untuk simulasi menjadi guru. Dengan kaki gemetaran berdiri dihadapan teman sekelas dan tangan yang mulai lemas memegang kapur, mampu menuliskan contoh kalimat majemuk bertingkat dengan huruf sambung yang semi Italic karena efek kaki yang gemetaran sambil mencoba meniru gaya Pak Wahyudi saat menyampaikan pola induk kalimat dan anak kalimat dalam kalimat majemuk. Sejak saat itu teman-teman menilai kalau tulisanku mirip tulisan guru, dan dilain kesempatan aku mendapat tugas dari Pak Wahyudi untuk menjadi tutor pelajaran Bahasa Indonesia dalam les pendalaman materi untuk persiapan Ujian Akhir Nasional. Tapi ironisnya, dari tiga mata pelajaran yang diujikan saat itu, justru nilai Bahasa Indonesia-ku lebih jelek dari dua mata pelajaran yang lainnya. Bukti kalau ternyata aku belum sepenuhnya menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. 

***
Dan saat ini waktu masih membawaku untuk terus mencari jawaban apa cita-citaku (sebenernya udah ga ditanya lagi sih). Tapi kali ini aku mencoba untuk menunaikan janji yang sudah tertulis di kertas hvs tugas Bahasa Indonesia saat berseragam putih biru, "turut mencerdaskan kehidupan bangsa". Yang kutulis justru turut serta bukan berperan aktif secara totalitas dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik dengan mendedikasikan diri berprofesi menjadi seorang tenaga pendidik. Allah Maha Melihat, saat itu mungkin Para Malaikat juga bediri di barisan para penuntut ilmu dan mengaminkan doa dan harapan yang sudah dituliskan sehingga aku masih berkesempatan untuk turut serta dalam upaya mencerdaskan bangsa, walaupun hanya berbagi cerita, mencoba menginspirasi dengan melambungkan mimpi anak-anak di sekolah dasar dengan mendaftarkan diri menjadi relawan pengajar dalam program Kelas Inspirasi, Travelling and Teaching bersama Komunitas 1000 Guru, dan baru saja mengikuti program resmi dari instansiku saat ini, yaitu Kemenkeu Mengajar. 

Kini, kutunaikan janjiku sebagai salah satu Pemudi, Putri dari Indonesia, Arum namanya yang ingin turut mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Jika aku belum mampu mengimplementasikan Sumpah Pemuda seperti pemuda dan pemudi Indonesia yang hebat lainnya, maka inilah caraku menunaikan janjiku kepada negeri.  

Dan inilah rekam jejak kegiatan Kemenkeu Mengajar di SDN Menteng 03 Jakarta, 23 Oktober 2017.








Menunaikan Janji
Tulisan ini akan menjadi tulisan perdana di Tahun 2017 yang menghiasi halaman blog ini, karena ternyata postingan terakhir tertanggal 24 November 2016. Tulisan ini juga akan menjadi istimewa bagi si empunya, karena mulai ditulis bertepatan dengan Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 September. Saat banyak pihak yang merayakan hari tersebut dengan kegiatan-kegiatan menarik seputar literasi seperti bedah buku, talkshow, penambahan jumlah koleksi buku di perpustakaan dll, aku cukup menambah koleksi tulisan di blog sebagai wujud partisipasi dalam mengisi Hari Literasi Internasional tahun ini dan sebagai bentuk dukungan kepada Kemendikbud RI dalam upaya “Membangun Budaya Literasi di Era Digital” sesuai tema  yang diusung di Hari Literasi tahun ini. 

Di postingan kali ini aku ingin menulis seputar kepenulisan yang sebenarnya sebuah pelampiasan karena belum ada ide untuk menulis dalam rangka mengikuti lomba dari sekian banyak list lomba menulis yang dateline-nya bulan September. Selain itu, motivasi mencoba menulis kembali karena diingatkan oleh seorang teman (dia yang menyodorkan list lomba menulis) bahwa bagi kami yang bergolongan darah B, cocok untuk menjadi penulis. Sungguh pernyataan ini sudah membuatku ke-ge-er-an. Benar-benar berharap bisa menjadi penulis hanya karena hasil tes darah semasa SMP menunjukkan bahwa aku bergolongan darah B. Tapi setelah beberapa hari mencoba untuk menggali ide tema penulisan dari lomba yang ditawarkan masih tetap saja nihil, aku pun meragukan perkataannya.

Alih-alih mencari ide cerita untuk menulis, aku malah mencari kebenaran atas informasi tentang profesi yang cocok berdasarkan golongan darah. Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa profesi yang cocok bagi orang yang bergolongan darah B adalah jurnalis, traveller dan seniman. Hasil penelitian justru tertulis jurnalis bukan penulis, karena penulis justru cocok bagi mereka yang bergolongan darah AB. Berikut ini adalah perbedaan definisi dari jurnalis dan penulis berdasarkan https://kbbi.web.id :

jurnalis/jur·na·lis/ n orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita dalam surat kabar dan sebagainya; wartawan

penulis /pe·nu·lis /n 1 orang yang menulis; 2 pengarang: ~ naskah; 3 panitera; sekretaris; setia usaha; 4 pelukis; penggambar;~ cepat orang yang menulis dengan huruf steno; ~ tajuk anggota redaksi yang ditugaskan menulis tajuk rencana pada surat kabar atau majalah;

Dari paparan hasil penelitian kecocokan golongan darah dengan profesi dan dari definisi dua kata tersebut, menjadikanku semakin bingung, karena dirasa-rasa aku sangat jauh dari dunia jurnalistik. Atau memang sebaiknya aku menjadi  traveller atau seniman (Jalan-jalan bareng Si Unyil atau Si Bolang sepertinya menyenangkan,  heeee, ini sekedar mimpi di siang bolong atau teman makan siang di kantor saat jam makanku berbeda dengan rekan lainnya. Soalnya kalau menjadi seniman sepertinya masih berupa bakat yang terpendam. Oke mungkin ini bisa menjadi bahan tulisan selanjutnya dalam hal penggalian potensi diri. Heeeee). Berbeda dengan temanku yang jelas-jelas bergolongan darah B (kok seolah-olah jadi meragukan golongan darah sendiri yaaaa), mantan penulis redaksi yang sekarang lebih memilih untuk bekerja di sebuah organisasi sosial, dia baru saja memenangkan lomba menulis berita yang dimuat di Medika, sebuah Jurnal Kedokteran Indonesia. Selain itu dia juga sudah beberapa kali memenangkan lomba menulis. “Selamat ya, Kawan”. Berdasarkan pengalamannya, dia pun akhirnya meng-iya-kan hasil penelitian kecocokan profesi berdasarkan golongan darah karena katanya dia pun masih kesulitan untuk menulis sebuah cerpen, sebab spesialisasinya adalah menulis berita.

Motivasi menulis juga datang dari ungkapan seorang teman yang lain yang menyatakan bahwa dengan menulis bisa mengendalikan emosi, sebuah keterampilan olah jiwa yang sangat dibutuhkan oleh seorang ibu, katanya. Aku sangat tertarik dengan ungkapan yang sangat menginspirasi ini. Aku pun mulai mencari sumbernya, tapi belum menemukan sampai sekarang. Setelah meminta konfirmasi dari temanku, ternyata ungkapan tersebut adalah salah satu hikmah yang dipetik olehnya saat mengikuti kajian parenting bersama Ustadz Bendri Jaisyurrahman yang sangat memotivasinya untuk mulai menulis. Baiklah, aku juga akan belajar menulis supaya lebih bisa mengontrol emosi dan kelak bisa menjadi ibu yang baik.

Sebelum tawaran list lomba menulis dengan dateline bulan September, ada temanku yang lain yang menawariku untuk mengikuti lomba menulis di tempat kerjanya, sebuah stasiun televisi. Penawaran tersebut H-3 penutupan lomba tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2017 dan penutupan lomba pada tanggal 20 Agustus 2017. Aku memaksakan diri untuk mengikuti lomba tersebut dengan tidak memperhatikan lawan-lawanku, yakni para jurnalis di stasiun televisi tersebut karena lomba tersebut sebenarnya diperuntukan bagi para karyawan. Pastilah tulisanku itu sudah kalah jauh dibanding mereka. Temanku yang bekerja di stasiun televisi ini juga bergolongan darah B yang belum menekuni dunia jurnalistik dan mengaku tidak berbakat menulis, tapi suka travelling dan jabatan di kantornya sebagai sekretaris.

Teman-teman yang kuceritakan di atas kecuali si mantan penulis redaksi mengaku belum pernah menulis sebelumnya, tapi tiba-tiba mampu menuliskan sesuatu yang menarik di sebuah lomba upload video di program Sunsilk Holiday. Aku yang tidak pandai bergaya dan tidak ekspresif terlalu minder untuk mengikuti lomba ini. Jadilah aku berkreasi lain dengan menambah caption yang panjang yang semoga menarik saat meng-upload video. Ternyata langkah ini diikuti oleh teman-temanku. Hari ini kami sedang menanti pengumuman pemenang. Masih terus berharap bahwa kamilah orang yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk berlibur ke Korea yang merupakan hadiah dari Sunsilk Holiday, Amin.

Lomba menulis di stasiun televisi dan caption video itulah tulisan yang lumayan agak panjang yang mampu aku tulis di tahun ini. Selebihnya hanya menulis pesan di WhatsApp (heheeee) dan caption di Instagram yang lebih banyak mengutip tulisan orang-orang hebat. Pekerjaan menjadi notulis di kantor pun masih sering dihindari (maafkan saya). Masih harus terus mengasah keterampilan mengolah kata-kata menjadi tulisan yang informatif dan menarik untuk dibaca. Sebagai penyemangat, mari sama-sama membaca pesan seorang penulis, Helvy Tiana Rosa berikut ini:
"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak". 

Selamat Hari Literasi Internasional, mari kita isi hari-hari ke depan  dengan mencoba menulis dan berkomitmen untuk lebih banyak membaca buku.
Menulis Tulisan
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

LATEST POSTS

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...
  • Duktek on Vacation, Edisi: Trip to Dieng
    Bermula dari obrolan ringan bersama seorang teman yang sangat ingin menikmati berlibur dengan menggunakan kereta api jarak jauh yang akhirny...
Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

  • Abdullah Mabruri
  • Kuliah Online

About Me

Foto saya
Arum Anggraeni
Orangnya sederhana aja yang ingin menulis hal-hal yang sederhana juga. Mencoba menulis untuk menyalurkan naluri kewanitaannya yang secara kodrati mampu menghasilkan 20.000 kata perhari. Semoga kata-kata tersebut tidak terbuang percuma, harapannya bisa memberikan manfaat.
Lihat profil lengkapku

Follow Us @arum.anggraeni

Followers

Featured Posts

Menu

  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Seo Services
  • Documentation
  • Download This Template

Archive

  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember 2019 (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ▼  2017 (3)
    • ▼  Desember 2017 (1)
      • Surat untuk Presiden RI
    • ►  Oktober 2017 (1)
      • Menunaikan Janji
    • ►  September 2017 (1)
      • Menulis Tulisan
  • ►  2016 (24)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (4)
    • ►  Juli 2016 (2)
    • ►  Juni 2016 (4)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (4)
    • ►  Januari 2016 (2)
  • ►  2015 (11)
    • ►  November 2015 (3)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (2)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (1)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  April 2015 (2)
  • ►  2014 (10)
    • ►  Oktober 2014 (2)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juli 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (2)
    • ►  Mei 2014 (2)

THE LIFESTYLE

Find us on Facebook

Pages

  • Beranda

About Me

Popular Posts

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...

Advertisement

Copyright © 2015 Arum's Blog. Designed by OddThemes