Satu bulan yang lalu...
Sorong, 24 Oktober 2016
Melawat ke Timur : Melambungkan Mimpi Anak Indonesia
Sorong, 24 Oktober 2016
Udara dingin setelah diguyur hujan dan juga tubuh yang lelah setelah satu hari berpetualang (baca kisahnya disini) tidak lantas membuatku malas untuk bergegas bangun, memulai hari Senin yang indah 😊.
Pkl 06.15 WIT, hari masih gelap, langit masih meneteskan air sisa hujan semalam. Jika dikonversi ke waktu Indonesia bagian barat, bisa jadi aku masih bermalas-malasan di kasur dan masih ingin memperpanjang waktu di akhir pekan. Tapi hari ini, di ujung Indonesia Timur, semua relawan Kemenkeu Mengajar sudah berkumpul di lobby hotel Indah Sorong untuk menikmati sarapan nasi pecel plus ayam goreng tepung. Nasi pecel ini dibeli oleh koordinator relawan panitia atas hasil patungan. Sebagai relawan kami memilih penginapan yang sangat standar (kalau aku sih serasa homey, soalnya kamarnya tidak jauh beda dengan kamar kos di Jakarta 😉) sehingga hotel pun tidak menyediakan menu sarapan.
Setelah selesai sarapan kami bergegas menuju ke sekolah. Aku masuk ke dalam tim relawan di SD Inpres 113 Kota Sorong. Sesampainya di sekolah kami langsung mempersiapkan diri untuk "perform" di kelas. Karena di luar masih hujan, pihak sekolah memutuskan untuk tidak mengadakan upacara bendera hari Senin. Kondisi yang tidak terprediksi ini, membuat relawan panitia berinisiatif untuk mengubah jadwal yang sudah dibuat sebelumnya dengan memulai jam pelajaran lebih awal. Kondisi lain yang sudah diantisipasi adalah seringnya mati listrik. Kondisi ini justru membuat para relawan lebih lebih kreatif dan inisiatif tanpa bantuan alat-alat elektronik saat proses pengajaran karena listrik mati sejak jam 8 pagi sampai acara berakhir.
Bayanganku saat memutuskan memilih Sorong, sebagai kota pilihan mengajar adalah akan bertemu dengan anak-anak asli Papua. Bahkan ketika ponakan tahu aku mau ke Sorong, mereka berpesan, "Jangan lupa berfoto sama anak-anaknya ya. Aku pengen liat yang kulitnya hitam dan rambutnya keriting-keriting". Ternyata anggapanku salah, berdasarkan informasi yang aku terima, hampir 80% pendusuk di Sorong adalah para pendatang.
Anggapan lain yang membuatku tertarik untuk turut serta melambungkan mimpi anak Papua adalah keterbelakangan pendidikan. Ternyata aku salah besar. Saat memasuki kelas, mereka sangat antusias menyambut "guru tamu". Mereka sama sekali tidak takut saat kedatangan "orang asing" di kelas mereka. Mereka justru sangat tertarik dengan apa yang disampaikan oleh para relawan pengajar. Dan kalau boleh aku membandingkan saat mengajar di SD yang terletak di ponggiran Kebumen dan Tasikmalaya, anak-anak Sorong yang aku temui memiliki kecerdasan yang lebih, baik dari sisi akademik maupun emosionalnya.
Sisi lain yang menarik perhatianku adalah rasa toleransi yang dimiliki oleh anak sekolah dasar di Sorong. Perbedaan fisik dan agama kepercayaan tetap menyatukan tujuan mereka, meraih mimpi dan cita-cita.
Menceritakan mimpi dan cita-cita anak-anak di SD Inpres 113 Kota Sorong membuatku yakin akan masa depan bangsa. Saat mereka diminta untuk menuliskan cita-citanya di kertas berbentuk bintang yang akan ditempelkan di langit cita-cita, mereka begitu percaya diri dengan apa yang mereka tulis. "Kakak... mau tahu tidak apa cita-citaku?", Fraulin begitu antusias memperlihatkan bintang cita-citanya. Membaca apa yang ditulisnya, aku langsung mengacungkan dua jempol sambil berseru, "Kamu hebat, Fraulin", dan dia pun tersenyum bangga. Selesai menuliskan cita-cita, setiap anak aku minta maju ke depan sambil membacakan cita-citanya, lalu teman-temannya akan mengacungkan dua jempolnya dan berseru, "Kamu hebat". Setelah itu mereka akan menempelkan bintang cita-citanya di langit cita-cita.
Sisi lain yang menarik perhatianku adalah rasa toleransi yang dimiliki oleh anak sekolah dasar di Sorong. Perbedaan fisik dan agama kepercayaan tetap menyatukan tujuan mereka, meraih mimpi dan cita-cita.
![]() |
| Saat bersoa bersama sebelum memulai belajar |
Menceritakan mimpi dan cita-cita anak-anak di SD Inpres 113 Kota Sorong membuatku yakin akan masa depan bangsa. Saat mereka diminta untuk menuliskan cita-citanya di kertas berbentuk bintang yang akan ditempelkan di langit cita-cita, mereka begitu percaya diri dengan apa yang mereka tulis. "Kakak... mau tahu tidak apa cita-citaku?", Fraulin begitu antusias memperlihatkan bintang cita-citanya. Membaca apa yang ditulisnya, aku langsung mengacungkan dua jempol sambil berseru, "Kamu hebat, Fraulin", dan dia pun tersenyum bangga. Selesai menuliskan cita-cita, setiap anak aku minta maju ke depan sambil membacakan cita-citanya, lalu teman-temannya akan mengacungkan dua jempolnya dan berseru, "Kamu hebat". Setelah itu mereka akan menempelkan bintang cita-citanya di langit cita-cita.
![]() |
| Pembuatan langit cita-cita di kamar kos |
Cita-cita anak-anak di SD Inpres 113 Kota Sorong sangat beragam. Dari beragamnya cita-cita yang ditulis, ada yang mendominasi yaitu ingin menjadi TNI yang ditulis dengan detail baik TNI AD, TNI AL, maupun TNI AU. Berdasarkan informasi yang aku terima, anak-anak sangat bangga terhadap kerja keras TNI dalam menjaga keamanan dan sikap baik hati dalam menolong warga. Dan merekapun ingin mencontohnya. Sebuah figur yang luar biasa.
Di akhir mengajar aku hanya berpesan kepada adik-adik agar selalu semangat dalam belajar dan menggapai cita-cita. Dan inilah tips ala Kak Arum:
Semoga apa yang dicita-citakan anak-anak di Sorong dapat terwujud. Jarak dengan ibu kota memang jauh dan mahal untuk menjangkaunya, namun nyala semangatmu dan tekad kuatmu lah yang akan mengantarkan negeri ini menjadi negera yang lebih maju.
Di akhir mengajar aku hanya berpesan kepada adik-adik agar selalu semangat dalam belajar dan menggapai cita-cita. Dan inilah tips ala Kak Arum:
Semoga apa yang dicita-citakan anak-anak di Sorong dapat terwujud. Jarak dengan ibu kota memang jauh dan mahal untuk menjangkaunya, namun nyala semangatmu dan tekad kuatmu lah yang akan mengantarkan negeri ini menjadi negera yang lebih maju.
![]() |
| Foto bersama di akhir acara Kemenkeu Mengajar |
Selalu semangat adik-adikku...
“I’m not a teacher: only a fellow traveler of whom you asked the way. I pointed ahead – ahead of myself as well as you.” – George Bernard Shaw
































