Jilbab Traveler : Melawat ke Timur
Judulnya mengadopsi dari dua buku karya penulis besar yakni Jilbab Traveler karya Asma Nadia dkk dan Melawat ke Timur Menyususri Semenanjung Raja-Raja karya Kardono Setyorakhmadi. Kedua buku tersebut berkisah tentang perjalanan, bedanya Asma Nadia dkk berkisah tentang perjalanan wanita berjilbab ke berbagai belahan dunia sedangkan Cak Dono begitu sapaan akrab Kardono Setyorakhmadi, menceritakan perjalanan seorang jurnalis tentang kehidupan beragama di kepulauan Maluku dan ujung barat pulau Papua. Jadi... sudah bisa ditebakkah cerita yang akan disampaikan dari judul tulisan Jilbab Traveler : Melawat ke Timur???
Ya... inilah kisah perjalananku, seorang muslimah berjilbab ke tanah Papua. Kisah ini berawal saat dibukanya pendaftaran relawan pengajar dalam program Kemenkeu Mengajar, sebuah kegiatan mengajar sehari mengenalkan fungsi dan peranan Kementerian Keuangan kepada anak-anak sekolah dasar. Dalam isian form pendaftaran, terdapat pilihan lokasi yakni enam kota yang mewakili pulau-pulau besar di Indonesia yaitu Jakarta, Banda Aceh, Balikpapan, Makasar, Denpasar dan Sorong. Atas dasar rayuan seorang sahabat yang merupakan rekan sekantor saat itu (kini telah menjadi bagian dari kantor pusat 😎) akhirnya aku memilih Sorong, kota terjauh dalam pilihan itu dan akan menjadi kota terjauh yang aku singgahi. Berbeda dengan sahabatku, dia memang seorang traveler dan seorang yang berjiwa relawan pengajar juga (pernah terlibat progran kelas inspirasi di kota yang sama) sehingga dia begitu antusias mengikiti Kemenkeu Mengajar dengan memilih kota terjauh. Sedangkan aku hanya seorang yang senang bermain dengan anak-anak (kisahnya disini atau yang ini), mencintai dunia pendidikan (bisa baca yang ini) dan pengagum keindahan alam ciptaan Tuhan (boleh juga baca yang ini), jadi keputusan memilih Sorong awalnya murni karna bujuk rayunya dan setelah merayu adek dan orang tua agar diijinkan bepergian jauh.
Dilema muncul saat pengumuman ternyata nama sahabatku itu tidak tercantum sebagai relawan pengajar. Jadilah aku mulai limbung. Keluarga yang awalnya mengijinkan dengan syarat ada teman saat berangkat dari Jakarta, mulai mengkhawatirkan keputusanku. Aku mulai "melacak" nama-nama relawan terpilih yang berkantor di DJP melalui sistem informasi kepegawaian, hasilnya adalah tidak ada yang berkantor di Jakarta. Ibu Dhida dari KPP Madiun, Ibu Ayu dari Sidoarjo, Ibu Ambar dari KPP Sleman, Pak Joko dari KP2KP, Bagas, Julius, Imam dan Hony dari KPP Timika, Mas Tomy dan Mas Satriyo yang merupakan tuan rumah, KPP Sorong. Sedangkan peserta lain yang berasal dari DJBC dan DJKN, aku kesulitan melacaknya di kota mana mereka berkantor.
Ditengah keraguan bepergian jauh seorang diri, komentar dari beberapa orang juga semakin menyesakkan dada. "Non APBN? Pakai biaya sendiri....??? Gilaaaa....!!!", "Dengan uang segitu lebih baik jalan-jalan ke Thailand", "Haaahhh.... itu mah bisa sekali jalan ke Jepang". Hiiiikkkksssss.... dengan apa aku harus membuktikan kalau aku tuh CINTA INDONESIA...!!! Dan ini bukan semata-mata untuk jalan-jalan dan hura-hura. Niatku adalah menjadi relawan pengajar di tanah Papua, yang mungkin bonusnya adalah bisa menikmati pesona Raja-raja disana.
Rasa penasaran terhadap tanah Papua, dunia pendidikannya dan ingin bebagi cerita kepada anak-anak asli ujung timur Indonesia membuatku semakin yakin untuk tetap berangkat ke Sorong dengan masih terus berusaha mencari teman berangkat dari Jakarta. Dari list relawan akhirnya kutemukan seorang pegawai di Sekretariat Jenderal yang sudah dipastikan dia akan berangkat dari Jakarta, sebut saja namanya mba Putri. Kami sempat berjanjian untuk berangkat dengan pesawat yang sama, namun apalah daya kami tidak dipertemukan di Jakarta. Kami bertemu saat transit di Ambon, itupun bertemunya sudah di dalam pesawat menuju Sorong. Di pesawat yang sama juga, akhirnya kami dipertemukan dengan Ibu Ida dan Ibu Ayu yang baru saja mendarat dan langsung berlari berganti pesawat.
Dengan total perjalanan udara yang ditempuh dalam waktu lebih dari empat jam (Jakarta - Sorong), akhirnya aku menginjakkan kaki di tanah Papua. Sungguh diluar dugaan, sesampainya di bandara sudah ada tim penjemput yang dipimpin oleh Kepala KPP Sorong beserta para panitia lokal dan relawan yang sudah sampai lebih dulu. Setelah itu kami dijamu dengan makan siang di rumah makan Padang. Jadi kebayang lagu jaman kecil yang dinyanyikan Eno "...mau makan di restoran Padang, bukan berarti harus ke Padang. Cukup ada disini...".
Sesampainya di Sorong, beberapa kekhawatiran yang dirasakan saat di Jakarta sirna sudah. Alhamdulillah Allah masih menjagaku dari makanan haram (seperti B2) yang katanya banyak beredar, tidak kutemui karena kami selalu mendapat undangan makanan bersama yang insya allah terjaga kekhalalannya (terlihat dari sang pemilik runah makan dan dari pramusajinya yang mengenakan jilbab). Dari sini juga hilang sudah image seorang relawan yang identik dengan makan seadanya.
Kekhawatiran lain adalah saat seorang teman yang menakutiku atas ancaman terjangkitnya penyakit malaria dan ditambah lagi hasil membaca di berbagai blog orang yang sudah berpengalaman kesana yang mengabarkan bahwa disana adalah daerah endemik malaria sehingga diharuskan untuk vaksin anti malaria sebelum berangkat kesana. Awalnya aku berniat untuk ke Puskesmas yang dekat dari kantor, tapi apalah daya minggu-minggu sebelum hari keberangkatan aku justru disibukkan dengan pekerjaan sehingga tak sempat vaksin. Sebagai bentuk usaha lain akhirnya aku ke apotek untuk membeli obat pencegah malaria dan sempat meminumnya malam sebelum berangkat. Sesampainya di Sorong, aku mendapat informasi bahwa seseorang yang jika tergigit nyamuk Anopheles tidak akan langsung sakit malaria jika daya tahan tubuhnya kuat. Jadi bisa saja saat ini digigit nyamuk tapi sakitnya tahun depan jika daya tahan tubuhnya sedang drop. Jadi intinya jaga stamina dan pesan dari Ibu Dhida, "Banyak makan selama hidup di Sorong, jangan sampai kelaperan".
Hal lain yang sempat aku khawatirkan adalah keperluan ibadah. Saya berpikir bahwa di Sorong itu daerah minoritas muslim sehingga akan kesulitan dalam hal ibadah, ternyata salah. Saat diantar petugas hotel ke kamar, saya langsung diberi tahu arah kiblat. Disini saya sudah sangat bersyukur dan merasa dihargai. Seperti yang dikatakan oleh Cak Dono dalam bukunya, "Orang Indonesia bagian barat perlu belajar toleransi beragama dengan orang-orang di Indonesia Timur". Disepanjang jalan yang dilewati pun banyak terlihat masjid yang bangunannya besar dan indah. Aku juga mendengar suara adzan di waktu-waktu yang menunjukkan masuknya waktu sholat. Alhamdulillah.
Trip to Raja Ampat
Mumpung sudah sampai ke tanah Papua, kami satu tim relawan Kemenkeu Mengajar kompak untuk menyempatkan mengunjungi Raja Ampat. Dengan paket yang ditawarkan adalah Rp 1.350.000 per orang selama satu hari. Katanya sih... tidak akan cukup satu bulan untuk menyusuri keindahan pulau-pulau Raja Ampat. Tapi, satu hari saja sudah cukup sebagai "bonus" sudah jauh-jauh menjadi relawan.
Dan inilah rekam jejak "Jilbab Traveler : Goes to Raja Ampat"
Pukul 06.00 kami sudah dijemput dari hotel (kami menginap di Hotel Indah). Jarak dari hotel ke pelabuhan cukip dekat dengan jarak tempuh sekitar 5 menit versi Sorong.
Rombongan kami berjumlah dua belas orang. Perjalanan laut yang ditempuh dari pelabuhan ke Raja Ampat sekitar dua jam menggunakan perahu motor. Terombang-ambing di lautan selama seharian, dengan ombak besar yang kadang-kadang menghadang tidak membuat kami takut ataupun mabuk laut, ini semua karena suasana kekompakan yang penuh keceriaan selama di kapal. Hal yang paling seru adalah main tebak-tebakkan.
Setelah menempuh perjalanan dua jam, kami sampai di spot yang pertama, wilayah teluk Kabui. Di wilayah ini nampak gundukan pulau-pulau kecil yang sangat indah. Salah satu yang terkenal yaitu Batu Pensil. Sebuah pulau yang bentuknya berbeda dengan gugusan pulau lainnya yang berbentuk bulat. Batu Pensil berbentuk kerucut, lancip, menjulang ke atas.
Sesampainya di Sorong, beberapa kekhawatiran yang dirasakan saat di Jakarta sirna sudah. Alhamdulillah Allah masih menjagaku dari makanan haram (seperti B2) yang katanya banyak beredar, tidak kutemui karena kami selalu mendapat undangan makanan bersama yang insya allah terjaga kekhalalannya (terlihat dari sang pemilik runah makan dan dari pramusajinya yang mengenakan jilbab). Dari sini juga hilang sudah image seorang relawan yang identik dengan makan seadanya.
Kekhawatiran lain adalah saat seorang teman yang menakutiku atas ancaman terjangkitnya penyakit malaria dan ditambah lagi hasil membaca di berbagai blog orang yang sudah berpengalaman kesana yang mengabarkan bahwa disana adalah daerah endemik malaria sehingga diharuskan untuk vaksin anti malaria sebelum berangkat kesana. Awalnya aku berniat untuk ke Puskesmas yang dekat dari kantor, tapi apalah daya minggu-minggu sebelum hari keberangkatan aku justru disibukkan dengan pekerjaan sehingga tak sempat vaksin. Sebagai bentuk usaha lain akhirnya aku ke apotek untuk membeli obat pencegah malaria dan sempat meminumnya malam sebelum berangkat. Sesampainya di Sorong, aku mendapat informasi bahwa seseorang yang jika tergigit nyamuk Anopheles tidak akan langsung sakit malaria jika daya tahan tubuhnya kuat. Jadi bisa saja saat ini digigit nyamuk tapi sakitnya tahun depan jika daya tahan tubuhnya sedang drop. Jadi intinya jaga stamina dan pesan dari Ibu Dhida, "Banyak makan selama hidup di Sorong, jangan sampai kelaperan".
Hal lain yang sempat aku khawatirkan adalah keperluan ibadah. Saya berpikir bahwa di Sorong itu daerah minoritas muslim sehingga akan kesulitan dalam hal ibadah, ternyata salah. Saat diantar petugas hotel ke kamar, saya langsung diberi tahu arah kiblat. Disini saya sudah sangat bersyukur dan merasa dihargai. Seperti yang dikatakan oleh Cak Dono dalam bukunya, "Orang Indonesia bagian barat perlu belajar toleransi beragama dengan orang-orang di Indonesia Timur". Disepanjang jalan yang dilewati pun banyak terlihat masjid yang bangunannya besar dan indah. Aku juga mendengar suara adzan di waktu-waktu yang menunjukkan masuknya waktu sholat. Alhamdulillah.
Trip to Raja Ampat
Mumpung sudah sampai ke tanah Papua, kami satu tim relawan Kemenkeu Mengajar kompak untuk menyempatkan mengunjungi Raja Ampat. Dengan paket yang ditawarkan adalah Rp 1.350.000 per orang selama satu hari. Katanya sih... tidak akan cukup satu bulan untuk menyusuri keindahan pulau-pulau Raja Ampat. Tapi, satu hari saja sudah cukup sebagai "bonus" sudah jauh-jauh menjadi relawan.
Dan inilah rekam jejak "Jilbab Traveler : Goes to Raja Ampat"
Pukul 06.00 kami sudah dijemput dari hotel (kami menginap di Hotel Indah). Jarak dari hotel ke pelabuhan cukip dekat dengan jarak tempuh sekitar 5 menit versi Sorong.
![]() |
| Saat menunghu kedatangan kapal |
![]() |
| Dibelakang foto nampak pulau-pulau disekotar Batu Pensil |
Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Namun, karena kebutuhan untuk ke kamar mandi, kami dibawa ke sebuah pulau yang terdapat toilet umum, dekat dengan Batu Pensil, sekitar 5 menit. Di dekat toilet tersebut kami menemukan spot yang indah untuk berfoto. Pulau-pulau yang letaknya seperti gapura pintu masuk.
![]() |
| Menikmati jernihnya air laut |
Setelah keperluan ke toilet terpenuhi dan berfoto di spot yang tersembunyi, kami melanjutkan perjalanan ke Piaynemo. Waktu yang ditempuh sekitar empat puluh menit. Piaynemo adalah gugusan pulau-pulau kecil yang ditutup hijau tumbuhan. Untuk bisa menimati keindahannya kami harus menuju puncak salah satu pulau. Akses menuju puncak sudah dibangun anak tangga dari kayu sebanyak 300 anak tangga.
Spot selanjutnya yang kami kunjungi adalah Pulau Arborek, sebuah pulau yang terdapat kampung wisata. Di spot inilah kami melakukan snorkling. Ada beberapa hal yang membuatku tidak beruntung disini. Pertama, aku tidak bisa berenang. Sebenarnya kami didampingi oleh guide yang siap memandu, tapi saat itu waktunya kurang tepat karena saat aku hendak menceburkan diri ke air, arusnya sangat kencang jadi kami diperintahkan untuk segera naik. Jadi, aku tak sempat berfoto dengan ikan-ikan cantik berwarna-warni dan terumbu karang yang indah. Untuk mengurangi penyesalan, aku akhirnya berenang di tepian pantai yang hanya melihat ikan dan karang yang kecil-kecil. Lumayanlah....
Oya... di kampung wisata ini aku melaksanakan sholat Sholat Dzuhur yang dijamak takdim dengan Ashar di rumah salah satu penduduk. Penduduknya ramah, hanya karena perbedaan dialek yang mungkin menyebabkab komunikasi kami kurang lancar. Saat kami berkumpul untuk makan siang, banyak anak-anak pulau yang mendekat. Kami diberitahu oleh tour guide kami bahwa anak-anak akan senang jika diminta menyanyi dan berfoto lalu sebagai ucapan terima kasih kami memberikan permen dan coklat kepada mereka. Padahal aku sudah niat ingin membawakan mereka mainan berupa puzle, apalah daya tak sempat membelinya sebelum berangkat ke Sorong.
Setelah dari Piaynemo, kami melanjutkan ke Telaga Bintang. Hanya sekitar lima belas menit waktu yang ditempuh (kalau tidak salah ingat). Untuk menikmati keindahan Telaga Bintang kami harus menuju puncak pulau karang. Berbeda dengan Piaynemo yang sudah dibangun tangga dari kayu, di pulau karang ini kami benar-banar menaiki batu karang dengan pijakan yang sudah dilapisi semen. Trekking yang cukup sulit hanya dengan berpegangan batu karang yang terkadang tajam. Ini tantangan tersendiri bagiku, jilbab traveler yang menggunakan rok panjang.
![]() |
| Telaga berbentuk bintang |
![]() |
| Pemandangan di seberang Telaga Bintang |
Oya... di kampung wisata ini aku melaksanakan sholat Sholat Dzuhur yang dijamak takdim dengan Ashar di rumah salah satu penduduk. Penduduknya ramah, hanya karena perbedaan dialek yang mungkin menyebabkab komunikasi kami kurang lancar. Saat kami berkumpul untuk makan siang, banyak anak-anak pulau yang mendekat. Kami diberitahu oleh tour guide kami bahwa anak-anak akan senang jika diminta menyanyi dan berfoto lalu sebagai ucapan terima kasih kami memberikan permen dan coklat kepada mereka. Padahal aku sudah niat ingin membawakan mereka mainan berupa puzle, apalah daya tak sempat membelinya sebelum berangkat ke Sorong.
Spot terakhir yang kami kunjungi adalah Pasir Timbul. Areal pasir putih di tengah-tengah lautan. Saat kami sampai kesana sekitar pukul empat sore. Kami sudah mendapat pesan dari tour guide agar tidak terlalu sore menuju Pasir Timbul, khawatir air laut keburu pasang sehingga pasirnya tidak tampak lagi (tidak timbul).
Pasir Timbul adalah destinasi terakhir kami menyusuri Raja Ampat dalam sehari. Saat jam menunjuk pukul lima sore kami menempuh perjalanan pulang menuju pelabuhan Sorong.
Ini rekam jejak kami di Raja Ampat yang diabadikan dalam bentuk video yang diambil oleh mas Ilham dengan bantuan Drone.
Demikianlah rekam jejak Jilbab Traveler : Goes to Raja Ampat. Keesokan harinya adalah kegiatan inti Melawat ke Timur : Kemenkeu Mengajar Sorong (nantikan kisah serunya).
So.... to be continued...




















0 komentar