Disuatu pagi, dalam kelas Bahasa Indonesia di SLTP Negeri 3 Kebumen (hayo tahun berapa ini kala penyebutannya masih eseltepe??? 😄).
Menulis karangan yang sudah ditentukan tema, kerangka karangan, jumlah minimal halaman, dll bagi sebagian orang merupakan tugas yang mudah dan menyenangkan, tapi tidak bagiku. Aku akan menghabiskan waktu berlama-lama merenung, mencoba merangkai cerita dari kerangka yang sudah tersedia, tapiiiii.... tidak banyak kata yang mampu aku tuliskan pada akhirnya. Akan banyak noda putih dari tipex karena setelah ditulis dan dibaca ulang terasa janggal, tulisan dengan font size besar, spasi lebar-lebar dengan tujuan memenuhi persyaratan jumlah minimal halaman. Ya, itulah diriku yang belum ada rasa ketertarikan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia terutama mengarang.
Tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia kali ini tidak serumit mengarang pada soal ujian akhir semester di nomor romawi paling akhir seperti biasanya, kali ini kami hanya diminta untuk menuliskan cita-cita berikut alasannya. Simple, bagi sebagian orang. Lihat saja teman-temanku yang sudah memulai memenuhi setengah lembar kertas hvs yang dibagikan. Lalu tengoklah diriku, yang justru berlari menuju masa kecilku.
....................
Hidup di desa pinggiran Kebumen, hanya ada seorang yang melayani kesehatan untuk seluruh penduduk desa yang membutuhkan pertolongan. Kami memanggilnya Bu Honim, Ibu Bidan kami yang cantik. Melihat kehebatannya memberikan pelayanan kesehatan, membantu pengobatan orang sakit dan ibu-ibu yang akan melahirkan, membuatku takjub. Dan inilah yang memberiku ide ketika ditanya, "Apa cita-citamu?" Menjadi Bidan.
Seiring berjalannya waktu, cita-cita itu memudar oleh kenyataan, bahwa aku takut jarum suntik, darah dan anti obat. Saat itu, di SD kami sedang ada suntik masal imunisasi cacar. Ada bisikan dari kakak kelas bahwa jika sudah duduk di kelas enam maka ketika disuntik akan ditusuk sampai ke tulang. Aku yang masih duduk di bangku kelas satu termakan oleh bisikan jahil sang kakak kelas dan membayangkan betapa sakitnya jika disuntik sedalam itu lalu sempat terucap, "aku tidak mau melanjutkan sekolah sampai kelas enam". Betapa ucapan seseorang yang lebih senior itu sangat didengarkan oleh juniornya. Peristiwa ini memberiku pelajaran yang sangat berharga.
Menjadi bidan sudah tidak terlintas lagi olehku ketika ditanya apa cita-citaku. Pak Pos yang datang ke rumah membawa pesan cinta dari Bapak di Jakarta atau membawa wesel yang selalu membuat Mamak tersenyum bahagia mulai menarik perhatianku. Apalagi ketika Mamak mengajakku ke kantor pos, melihat para pegawai berseragam rapi, bekerja dengan cekatan. Maklum kalau di desa hanya melihat Pak Tani dengan cangkul dan rantangnya atau para pekerja pabrik genteng yang hanya memakai kaos oblong sambil bersepeda pulang dan pergi bekerja melintasi depan rumahku. Hemmm... Aku ingin seperti Pak Pos, penyambung kabar kepada sanak kerabat nun jauh disana. Lihatlah... Betapa dunia anak itu mudah terinspirasi. (semoga ini tidak hanya terjadi di diriku saat itu, tetapi juga pada kids jaman now, semoga mereka mudah terinspirasi oleh hal yang positif 😄)
..........................
Lamunanku terhenti, lalu tergagap karena sudah saatnya mengumpulkan tugas, tapi kertasku masih kosong. Entah kekuatan dari mana, tangan dan bolpoin pada akhirnya kompak menuliskan "Menjadi guru. Ingin turut mencerdaskan kehidupan bangsa". Sangat klise. Anggap saja aku siswi yang setiap pelaksanaan upacara begitu hidmat meresapi sehingga hafal salah satu kalimat dalam teks Pembukaan UUD 1945. 😆. Kenapa menjadi guru? Bisa jadi doa Mamak tentang keinginan memiliki suami atau keturunan seorang guru lebih diijabah oleh Allah. Ditambah lagi disaat kepepet itu jelas terlihat di depanku wajah Pak Wahyudi, guru Bahasa Indonesia, yang menurutku luar biasa. Ketika beberapa guru mengungkapkan curahan hatinya tentang gajinya yang kecil, tanggung jawab yang besar mendidik generasi bangsa dan beberapa hal lain yang dirasa kurang oleh beberapa guru, Pak Wahyudi dengan tegas menyatakan betapa bangganya menjadi guru, bahwa guru tetaplah lebih pintar dari anak muridnya yang sudah berhasil menjadi orang hebat di luar, bahwa pahala seorang guru akan mengalir walaupun kelak sudah tiada. Dan terlebih, aku terpesona saat beliau menyita gitar yang sedang dimainkan salah seorang dari kami saat jam kosong tidak ada guru, lalu Pak Wahyudi memetik senar gitar itu sambil menyayikan lagu Hymne Guru, begitu menyentuh.
Di pelajaran Bahasa Indonesia hari berikutnya, aku dibuat kaget oleh Pak Wahyudi yang memanggilku dan membacakan cita-citaku beserta alasannya. Setelah itu aku diminta untuk simulasi menjadi guru. Dengan kaki gemetaran berdiri dihadapan teman sekelas dan tangan yang mulai lemas memegang kapur, mampu menuliskan contoh kalimat majemuk bertingkat dengan huruf sambung yang semi Italic karena efek kaki yang gemetaran sambil mencoba meniru gaya Pak Wahyudi saat menyampaikan pola induk kalimat dan anak kalimat dalam kalimat majemuk. Sejak saat itu teman-teman menilai kalau tulisanku mirip tulisan guru, dan dilain kesempatan aku mendapat tugas dari Pak Wahyudi untuk menjadi tutor pelajaran Bahasa Indonesia dalam les pendalaman materi untuk persiapan Ujian Akhir Nasional. Tapi ironisnya, dari tiga mata pelajaran yang diujikan saat itu, justru nilai Bahasa Indonesia-ku lebih jelek dari dua mata pelajaran yang lainnya. Bukti kalau ternyata aku belum sepenuhnya menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
***
Dan saat ini waktu masih membawaku untuk terus mencari jawaban apa cita-citaku (sebenernya udah ga ditanya lagi sih). Tapi kali ini aku mencoba untuk menunaikan janji yang sudah tertulis di kertas hvs tugas Bahasa Indonesia saat berseragam putih biru, "turut mencerdaskan kehidupan bangsa". Yang kutulis justru turut serta bukan berperan aktif secara totalitas dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih baik dengan mendedikasikan diri berprofesi menjadi seorang tenaga pendidik. Allah Maha Melihat, saat itu mungkin Para Malaikat juga bediri di barisan para penuntut ilmu dan mengaminkan doa dan harapan yang sudah dituliskan sehingga aku masih berkesempatan untuk turut serta dalam upaya mencerdaskan bangsa, walaupun hanya berbagi cerita, mencoba menginspirasi dengan melambungkan mimpi anak-anak di sekolah dasar dengan mendaftarkan diri menjadi relawan pengajar dalam program Kelas Inspirasi, Travelling and Teaching bersama Komunitas 1000 Guru, dan baru saja mengikuti program resmi dari instansiku saat ini, yaitu Kemenkeu Mengajar.
Kini, kutunaikan janjiku sebagai salah satu Pemudi, Putri dari Indonesia, Arum namanya yang ingin turut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Jika aku belum mampu mengimplementasikan Sumpah Pemuda seperti pemuda dan pemudi Indonesia yang hebat lainnya, maka inilah caraku menunaikan janjiku kepada negeri.

