• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Travel
  • Contact Us

Arum's Blog

"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak"-Helvy Tiana Rosa

Satu bulan yang lalu...

Sorong, 24 Oktober 2016

Udara dingin setelah diguyur hujan dan juga tubuh yang lelah setelah satu hari berpetualang (baca kisahnya disini) tidak lantas membuatku malas untuk bergegas bangun, memulai hari Senin yang indah 😊. 

Pkl 06.15 WIT, hari masih gelap, langit masih meneteskan air sisa hujan semalam. Jika dikonversi ke waktu Indonesia bagian barat, bisa jadi aku masih bermalas-malasan di kasur dan masih ingin memperpanjang waktu di akhir pekan. Tapi hari ini, di ujung Indonesia Timur, semua relawan Kemenkeu Mengajar sudah berkumpul di lobby hotel Indah Sorong untuk menikmati sarapan nasi pecel plus ayam goreng tepung. Nasi pecel ini dibeli oleh koordinator relawan panitia atas hasil patungan. Sebagai relawan kami memilih penginapan yang sangat standar (kalau aku sih serasa homey, soalnya kamarnya tidak jauh beda dengan kamar kos di Jakarta 😉) sehingga hotel pun tidak menyediakan menu sarapan. 

Setelah selesai sarapan kami bergegas menuju ke sekolah. Aku masuk ke dalam tim relawan di SD Inpres 113 Kota Sorong. Sesampainya di sekolah kami langsung mempersiapkan diri untuk "perform" di kelas. Karena di luar masih hujan, pihak sekolah memutuskan untuk tidak mengadakan upacara bendera hari Senin. Kondisi yang tidak terprediksi ini, membuat relawan panitia berinisiatif untuk mengubah jadwal yang sudah dibuat sebelumnya dengan memulai jam pelajaran lebih awal. Kondisi lain yang sudah diantisipasi adalah seringnya mati listrik. Kondisi ini justru membuat para relawan lebih lebih kreatif dan inisiatif tanpa bantuan alat-alat elektronik saat proses pengajaran karena listrik mati sejak jam 8 pagi sampai acara berakhir.

Bayanganku saat memutuskan memilih Sorong, sebagai kota pilihan mengajar adalah akan bertemu dengan anak-anak asli Papua. Bahkan ketika ponakan tahu aku mau ke Sorong, mereka berpesan, "Jangan lupa berfoto sama anak-anaknya ya. Aku pengen liat yang kulitnya hitam dan rambutnya keriting-keriting".  Ternyata anggapanku salah, berdasarkan informasi yang aku terima, hampir 80% pendusuk di Sorong adalah para pendatang.  

Anggapan lain yang membuatku tertarik untuk turut serta melambungkan mimpi anak Papua adalah keterbelakangan pendidikan. Ternyata aku salah besar. Saat memasuki kelas, mereka sangat antusias menyambut "guru tamu". Mereka sama sekali tidak takut saat kedatangan "orang asing" di kelas mereka. Mereka justru sangat tertarik dengan apa yang disampaikan oleh para relawan pengajar. Dan kalau boleh aku membandingkan saat mengajar di SD yang terletak di ponggiran Kebumen dan Tasikmalaya, anak-anak Sorong yang aku temui memiliki kecerdasan yang lebih, baik dari sisi akademik maupun emosionalnya.


Sisi lain yang menarik perhatianku adalah rasa toleransi yang dimiliki oleh anak sekolah dasar di Sorong. Perbedaan fisik dan agama kepercayaan tetap menyatukan tujuan mereka, meraih mimpi dan cita-cita.

Saat bersoa bersama sebelum memulai belajar

Menceritakan mimpi dan cita-cita anak-anak di SD Inpres 113 Kota Sorong membuatku yakin akan masa depan bangsa. Saat mereka diminta untuk menuliskan cita-citanya di kertas berbentuk bintang yang akan ditempelkan di langit cita-cita, mereka begitu percaya diri dengan apa yang mereka tulis. "Kakak... mau tahu tidak apa cita-citaku?", Fraulin begitu antusias memperlihatkan bintang cita-citanya. Membaca apa yang ditulisnya, aku langsung mengacungkan dua jempol sambil berseru, "Kamu hebat, Fraulin", dan dia pun tersenyum bangga. Selesai menuliskan cita-cita, setiap anak aku minta maju ke depan sambil membacakan cita-citanya, lalu teman-temannya akan mengacungkan dua jempolnya dan berseru, "Kamu hebat". Setelah itu mereka akan menempelkan bintang cita-citanya di langit cita-cita.

Pembuatan langit cita-cita di kamar kos

Cita-cita anak-anak di SD Inpres 113 Kota Sorong sangat beragam. Dari beragamnya cita-cita yang ditulis, ada yang mendominasi yaitu ingin menjadi TNI yang ditulis dengan detail baik TNI AD, TNI AL, maupun TNI AU. Berdasarkan informasi yang aku terima, anak-anak sangat bangga terhadap kerja keras TNI dalam menjaga keamanan dan sikap baik hati dalam menolong warga. Dan merekapun ingin mencontohnya. Sebuah figur yang luar biasa.

Di akhir mengajar aku hanya berpesan kepada adik-adik agar selalu semangat dalam belajar dan menggapai cita-cita. Dan inilah tips ala Kak Arum:


Semoga apa yang dicita-citakan anak-anak di Sorong dapat terwujud. Jarak dengan ibu kota memang jauh dan mahal untuk menjangkaunya, namun nyala semangatmu dan tekad kuatmu lah yang akan mengantarkan negeri ini menjadi negera yang lebih maju.

Foto bersama di akhir acara Kemenkeu Mengajar

Selalu semangat adik-adikku...


“I’m not a teacher: only a fellow traveler of whom you asked the way. I pointed ahead – ahead of myself as well as you.” – George Bernard Shaw







Melawat ke Timur : Melambungkan Mimpi Anak Indonesia
Judulnya mengadopsi dari  dua buku karya penulis besar yakni Jilbab Traveler karya Asma Nadia dkk dan Melawat ke Timur Menyususri Semenanjung Raja-Raja karya Kardono Setyorakhmadi. Kedua buku tersebut berkisah tentang perjalanan, bedanya Asma Nadia dkk berkisah tentang perjalanan wanita berjilbab ke berbagai belahan dunia sedangkan Cak Dono begitu sapaan akrab Kardono Setyorakhmadi, menceritakan perjalanan seorang jurnalis tentang kehidupan beragama di kepulauan Maluku dan ujung barat pulau Papua. Jadi... sudah bisa ditebakkah cerita yang akan disampaikan dari judul tulisan Jilbab Traveler : Melawat ke Timur???

Ya... inilah kisah perjalananku, seorang muslimah berjilbab ke tanah Papua. Kisah ini berawal saat dibukanya pendaftaran relawan pengajar dalam program Kemenkeu Mengajar, sebuah kegiatan mengajar sehari mengenalkan fungsi dan peranan Kementerian Keuangan kepada anak-anak sekolah dasar. Dalam isian form pendaftaran, terdapat pilihan lokasi yakni enam kota yang mewakili pulau-pulau besar di Indonesia yaitu Jakarta, Banda Aceh, Balikpapan, Makasar, Denpasar dan Sorong. Atas dasar rayuan seorang sahabat yang merupakan rekan sekantor saat itu (kini telah menjadi bagian dari kantor pusat 😎) akhirnya aku memilih Sorong, kota terjauh dalam pilihan itu dan akan menjadi kota terjauh yang aku singgahi. Berbeda dengan sahabatku, dia memang seorang traveler dan seorang yang berjiwa relawan pengajar juga (pernah terlibat progran kelas inspirasi di kota yang sama) sehingga dia begitu antusias mengikiti Kemenkeu Mengajar dengan memilih kota terjauh. Sedangkan aku hanya seorang yang senang bermain dengan anak-anak (kisahnya disini atau yang ini), mencintai dunia pendidikan (bisa baca yang ini) dan pengagum keindahan alam ciptaan Tuhan (boleh juga baca yang ini), jadi keputusan memilih Sorong awalnya murni karna bujuk rayunya dan setelah merayu adek dan orang tua agar diijinkan bepergian jauh.

Dilema muncul saat pengumuman ternyata nama sahabatku itu tidak tercantum sebagai relawan pengajar. Jadilah aku mulai limbung. Keluarga yang awalnya mengijinkan dengan syarat ada teman saat berangkat dari Jakarta, mulai mengkhawatirkan keputusanku. Aku mulai "melacak" nama-nama relawan terpilih yang berkantor di DJP melalui sistem informasi kepegawaian, hasilnya adalah tidak ada yang berkantor di Jakarta. Ibu Dhida dari KPP Madiun, Ibu Ayu dari Sidoarjo, Ibu Ambar dari KPP Sleman, Pak Joko dari KP2KP, Bagas, Julius, Imam dan Hony dari KPP Timika, Mas Tomy dan Mas Satriyo yang merupakan tuan rumah, KPP Sorong. Sedangkan peserta lain yang berasal dari DJBC dan DJKN, aku kesulitan melacaknya di kota mana mereka berkantor.

Ditengah keraguan bepergian jauh seorang diri, komentar dari beberapa orang juga semakin menyesakkan dada. "Non APBN? Pakai biaya sendiri....??? Gilaaaa....!!!", "Dengan uang segitu lebih baik jalan-jalan ke Thailand", "Haaahhh.... itu mah bisa sekali jalan ke Jepang". Hiiiikkkksssss.... dengan apa aku harus membuktikan kalau aku tuh CINTA INDONESIA...!!! Dan ini bukan semata-mata untuk jalan-jalan dan hura-hura. Niatku adalah menjadi relawan pengajar di tanah Papua, yang mungkin bonusnya adalah bisa menikmati pesona Raja-raja disana.

Rasa penasaran terhadap tanah Papua, dunia pendidikannya dan ingin bebagi cerita kepada anak-anak asli ujung timur Indonesia membuatku semakin yakin untuk tetap berangkat ke Sorong dengan masih terus berusaha mencari teman berangkat dari Jakarta. Dari list relawan akhirnya kutemukan seorang pegawai di Sekretariat Jenderal yang sudah dipastikan dia akan berangkat dari Jakarta, sebut saja namanya mba Putri. Kami sempat berjanjian untuk berangkat dengan pesawat yang sama, namun apalah daya kami tidak dipertemukan di Jakarta. Kami bertemu saat transit di Ambon, itupun bertemunya sudah di dalam pesawat menuju Sorong. Di pesawat yang sama juga, akhirnya kami dipertemukan dengan Ibu Ida dan Ibu Ayu yang baru saja mendarat dan langsung berlari berganti pesawat.

Dengan total perjalanan udara yang ditempuh dalam waktu lebih dari empat jam (Jakarta - Sorong), akhirnya aku menginjakkan kaki di tanah Papua. Sungguh diluar dugaan, sesampainya di bandara sudah ada tim penjemput yang dipimpin oleh Kepala KPP Sorong beserta para panitia lokal dan relawan yang sudah sampai lebih dulu. Setelah itu kami dijamu dengan makan siang di rumah makan Padang. Jadi kebayang lagu jaman kecil yang dinyanyikan Eno "...mau makan di restoran Padang, bukan berarti harus ke Padang. Cukup ada disini...".

Sesampainya di Sorong, beberapa kekhawatiran yang dirasakan saat di Jakarta sirna sudah. Alhamdulillah Allah masih menjagaku dari makanan haram (seperti B2) yang katanya banyak beredar, tidak kutemui karena kami selalu mendapat undangan makanan bersama yang insya allah terjaga kekhalalannya (terlihat dari sang pemilik runah makan dan dari pramusajinya yang mengenakan jilbab). Dari sini juga hilang sudah image seorang relawan yang identik dengan makan seadanya.

Kekhawatiran lain adalah saat seorang teman yang menakutiku atas ancaman terjangkitnya penyakit malaria dan ditambah lagi hasil membaca di berbagai blog orang yang sudah berpengalaman kesana yang mengabarkan bahwa disana adalah daerah endemik malaria sehingga diharuskan untuk vaksin anti malaria sebelum berangkat kesana. Awalnya aku berniat untuk ke Puskesmas yang dekat dari kantor, tapi apalah daya minggu-minggu sebelum hari keberangkatan aku justru disibukkan dengan pekerjaan sehingga tak sempat vaksin. Sebagai bentuk usaha lain akhirnya aku ke apotek untuk membeli obat pencegah malaria dan sempat meminumnya malam sebelum berangkat. Sesampainya di Sorong, aku mendapat informasi bahwa seseorang yang jika tergigit nyamuk Anopheles tidak akan langsung sakit malaria jika daya tahan tubuhnya kuat. Jadi bisa saja saat ini digigit nyamuk tapi sakitnya tahun depan jika daya tahan tubuhnya sedang drop. Jadi intinya jaga stamina dan pesan dari Ibu Dhida, "Banyak makan selama hidup di Sorong, jangan sampai kelaperan".

Hal lain yang sempat aku khawatirkan adalah keperluan ibadah. Saya berpikir bahwa di Sorong itu daerah minoritas muslim sehingga akan kesulitan dalam hal ibadah, ternyata salah. Saat diantar petugas hotel ke kamar, saya langsung diberi tahu arah kiblat. Disini saya sudah sangat bersyukur dan merasa dihargai. Seperti yang dikatakan oleh Cak Dono dalam bukunya, "Orang Indonesia bagian barat perlu belajar toleransi beragama dengan orang-orang di Indonesia Timur". Disepanjang jalan yang dilewati pun banyak terlihat masjid yang bangunannya besar dan indah. Aku juga mendengar suara adzan di waktu-waktu yang menunjukkan masuknya waktu sholat. Alhamdulillah.


Trip to Raja Ampat

Mumpung sudah sampai ke tanah Papua, kami satu tim relawan Kemenkeu Mengajar kompak untuk menyempatkan mengunjungi Raja Ampat. Dengan paket yang ditawarkan adalah Rp 1.350.000 per orang selama satu hari. Katanya sih... tidak akan cukup satu bulan untuk menyusuri keindahan pulau-pulau Raja Ampat. Tapi, satu hari saja sudah cukup sebagai "bonus" sudah jauh-jauh menjadi relawan.

Dan inilah rekam jejak "Jilbab Traveler : Goes to Raja Ampat"

Pukul 06.00 kami sudah dijemput dari hotel (kami menginap di Hotel Indah). Jarak dari hotel ke pelabuhan cukip dekat dengan jarak tempuh sekitar 5 menit versi Sorong.
Saat menunghu kedatangan kapal
Rombongan kami berjumlah dua belas orang. Perjalanan laut yang ditempuh dari pelabuhan ke Raja Ampat sekitar dua jam menggunakan perahu motor. Terombang-ambing di lautan selama seharian, dengan ombak besar yang kadang-kadang menghadang tidak membuat kami takut ataupun mabuk laut, ini semua karena suasana kekompakan yang penuh keceriaan selama di kapal. Hal yang paling seru adalah main tebak-tebakkan.


Setelah menempuh perjalanan dua jam, kami sampai di spot yang pertama, wilayah teluk Kabui. Di wilayah ini nampak gundukan pulau-pulau kecil yang sangat indah. Salah satu yang terkenal yaitu Batu Pensil. Sebuah pulau yang bentuknya berbeda dengan gugusan pulau lainnya yang berbentuk bulat. Batu Pensil berbentuk kerucut, lancip, menjulang ke atas.

Dibelakang foto nampak pulau-pulau disekotar Batu Pensil

Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Namun, karena kebutuhan untuk ke kamar mandi, kami dibawa ke sebuah pulau yang terdapat toilet umum, dekat dengan Batu Pensil, sekitar 5 menit. Di dekat toilet tersebut kami menemukan spot yang indah untuk berfoto. Pulau-pulau yang letaknya seperti gapura pintu masuk.

Menikmati jernihnya air laut

Setelah keperluan ke toilet terpenuhi dan berfoto di spot yang tersembunyi, kami melanjutkan perjalanan ke Piaynemo.  Waktu yang ditempuh sekitar empat puluh menit. Piaynemo adalah gugusan pulau-pulau kecil yang ditutup hijau tumbuhan. Untuk bisa menimati keindahannya kami harus menuju puncak salah satu pulau. Akses menuju puncak sudah dibangun anak tangga dari kayu sebanyak 300 anak tangga.




Setelah dari Piaynemo, kami melanjutkan ke Telaga Bintang. Hanya sekitar lima belas menit waktu yang ditempuh (kalau tidak salah ingat). Untuk menikmati keindahan Telaga Bintang kami harus menuju puncak pulau karang. Berbeda dengan Piaynemo yang sudah dibangun tangga dari kayu, di pulau karang ini kami benar-banar menaiki batu karang dengan pijakan yang sudah dilapisi semen. Trekking yang cukup sulit hanya dengan berpegangan batu karang yang terkadang tajam. Ini tantangan tersendiri bagiku, jilbab traveler yang menggunakan rok panjang.
Telaga berbentuk bintang

Pemandangan di seberang Telaga Bintang

Spot selanjutnya yang kami kunjungi adalah Pulau Arborek, sebuah pulau yang terdapat kampung wisata. Di spot inilah kami melakukan snorkling. Ada beberapa hal yang membuatku tidak beruntung disini. Pertama, aku tidak bisa berenang. Sebenarnya kami didampingi oleh guide yang siap memandu, tapi saat itu waktunya kurang tepat karena saat aku hendak menceburkan diri ke air, arusnya sangat kencang jadi kami diperintahkan untuk segera naik. Jadi, aku tak sempat berfoto dengan ikan-ikan cantik berwarna-warni dan terumbu karang yang indah. Untuk mengurangi penyesalan, aku akhirnya berenang di tepian pantai yang hanya melihat ikan dan karang yang kecil-kecil. Lumayanlah....

Oya... di kampung wisata ini aku melaksanakan sholat Sholat Dzuhur yang dijamak takdim dengan Ashar di rumah salah satu penduduk. Penduduknya ramah, hanya karena perbedaan dialek yang mungkin menyebabkab komunikasi kami kurang lancar. Saat kami berkumpul untuk makan siang, banyak anak-anak pulau yang mendekat. Kami diberitahu oleh tour guide kami bahwa anak-anak akan senang jika diminta menyanyi dan berfoto lalu sebagai ucapan terima kasih kami memberikan permen dan coklat kepada mereka. Padahal aku sudah niat ingin membawakan mereka mainan berupa puzle, apalah daya tak sempat membelinya sebelum berangkat ke Sorong.




Spot terakhir yang kami kunjungi adalah Pasir Timbul. Areal pasir putih di tengah-tengah lautan. Saat kami sampai kesana sekitar pukul empat sore. Kami sudah mendapat pesan dari tour guide agar tidak terlalu sore menuju Pasir Timbul, khawatir air laut keburu pasang sehingga pasirnya tidak tampak lagi (tidak timbul).



Pasir Timbul adalah destinasi terakhir kami menyusuri Raja Ampat dalam sehari. Saat jam menunjuk pukul lima sore kami menempuh perjalanan pulang menuju pelabuhan Sorong.

Ini rekam jejak kami di Raja Ampat yang diabadikan dalam bentuk video yang diambil oleh mas Ilham dengan bantuan Drone.






Demikianlah rekam jejak Jilbab Traveler : Goes to Raja Ampat. Keesokan harinya adalah kegiatan inti Melawat ke Timur : Kemenkeu Mengajar Sorong (nantikan kisah serunya).

So.... to be continued...


Jilbab Traveler : Melawat ke Timur
Judulnya mengadopsi dari  dua buku karya penulis besar yakni Jilbab Traveler karya Asma Nadia dkk dan Melawat ke Timur Menyususri Semenanjung Raja-Raja karya Kardono Setyorakhmadi. Kedua buku tersebut berkisah tentang perjalanan, bedanya Asma Nadia dkk berkisah tentang perjalanan wanita berjilbab ke berbagai belahan dunia sedangkan Cak Dono begitu sapaan akrab Kardono Setyorakhmadi, menceritakan perjalanan seorang jurnalis tentang kehidupan beragama di kepulauan Maluku dan ujung barat pulau Papua. Jadi... sudah bisa ditebakkah cerita yang akan disampaikan dari judul tulisan Jilbab Traveler : Melawat ke Timur???

Ya... inilah kisah perjalananku, seorang muslimah berjilbab ke tanah Papua. Kisah ini berawal saat dibukanya pendaftaran relawan pengajar dalam program Kemenkeu Mengajar, sebuah kegiatan mengajar sehari mengenalkan fungsi dan peranan Kementerian Keuangan kepada anak-anak sekolah dasar. Dalam isian form pendaftaran, terdapat pilihan lokasi yakni enam kota yang mewakili pulau-pulau besar di Indonesia yaitu Jakarta, Banda Aceh, Balikpapan, Makasar, Denpasar dan Sorong. Atas dasar rayuan seorang sahabat yang merupakan rekan sekantor saat itu (kini telah menjadi bagian dari kantor pusat 😎) akhirnya aku memilih Sorong, kota terjauh dalam pilihan itu dan akan menjadi kota terjauh yang aku singgahi. Berbeda dengan sahabatku, dia memang seorang traveler dan seorang yang berjiwa relawan pengajar juga (pernah terlibat progran kelas inspirasi di kota yang sama) sehingga dia begitu antusias mengikiti Kemenkeu Mengajar dengan memilih kota terjauh. Sedangkan aku hanya seorang yang senang bermain dengan anak-anak (kisahnya disini atau yang ini), mencintai dunia pendidikan (bisa baca yang ini) dan pengagum keindahan alam ciptaan Tuhan (boleh juga baca yang ini), jadi keputusan memilih Sorong awalnya murni karna bujuk rayunya dan setelah merayu adek dan orang tua agar diijinkan bepergian jauh.

Dilema muncul saat pengumuman ternyata nama sahabatku itu tidak tercantum sebagai relawan pengajar. Jadilah aku mulai limbung. Keluarga yang awalnya mengijinkan dengan syarat ada teman saat berangkat dari Jakarta, mulai mengkhawatirkan keputusanku. Aku mulai "melacak" nama-nama relawan terpilih yang berkantor di DJP melalui sistem informasi kepegawaian, hasilnya adalah tidak ada yang berkantor di Jakarta. Ibu Dhida dari KPP Madiun, Ibu Ayu dari Sidoarjo, Ibu Ambar dari KPP Sleman, Pak Joko dari KP2KP, Bagas, Julius, Imam dan Hony dari KPP Timika, Mas Tomy dan Mas Satriyo yang merupakan tuan rumah, KPP Sorong. Sedangkan peserta lain yang berasal dari DJBC dan DJKN, aku kesulitan melacaknya di kota mana mereka berkantor.

Ditengah keraguan bepergian jauh seorang diri, komentar dari beberapa orang juga semakin menyesakkan dada. "Non APBN? Pakai biaya sendiri....??? Gilaaaa....!!!", "Dengan uang segitu lebih baik jalan-jalan ke Thailand", "Haaahhh.... itu mah bisa sekali jalan ke Jepang". Hiiiikkkksssss.... dengan apa aku harus membuktikan kalau aku tuh CINTA INDONESIA...!!! Dan ini bukan semata-mata untuk jalan-jalan dan hura-hura. Niatku adalah menjadi relawan pengajar di tanah Papua, yang mungkin bonusnya adalah bisa menikmati pesona Raja-raja disana.

Bisa jalan-jalan ke luar negeri memang memiliki prestise tersendiri tapi aku sudah meniatkan bahwa aku akan menginjakkan kaki ke luar negeri pertama kali adalah untuk beribadah haji/umrah atau kesempatan menimba ilmu di Benua Eropa.  Atau... mendapat undian gratis liburan ke luar negeri. Heee..... (Waaahhh jadi ngelantur ceritanya... oke kita kembali ke Sorong)

Rasa penasaran terhadap tanah Papua, dunia pendidikannya dan ingin bebagi cerita kepada anak-anak asli ujung timur Indonesia membuatku semakin yakin untuk tetap berangkat ke Sorong dengan masih terus berusaha mencari teman berangkat dari Jakarta. Dari list relawan akhirnya kutemukan seorang pegawai di Sekretariat Jenderal yang sudah dipastikan dia akan berangkat dari Jakarta, sebut saja namanya mba Putri. Kami sempat berjanjian untuk berangkat dengan pesawat yang sama, namun apalah daya kami tidak dipertemukan di Jakarta. Kami bertemu saat transit di Ambon, itupun bertemunya sudah di dalam pesawat menuju Sorong. Di pesawat yang sama juga, akhirnya kami dipertemukan dengan Ibu Ida dan Ibu Ayu yang baru saja mendarat dan langsung berlari berganti pesawat.

Dengan total perjalanan udara yang ditempuh dalam waktu lebih dari empat jam (Jakarta - Sorong), akhirnya aku menginjakkan kaki di tanah Papua. Sungguh diluar dugaan, sesampainya di bandara sudah ada tim penjemput yang dipimpin oleh Kepala KPP Sorong beserta para panitia lokal dan relawan yang sudah sampai lebih dulu. Setelah itu kami dijamu dengan makan siang di rumah makan Padang. Jadi kebayang lagu jaman kecil yang dinyanyikan Eno "...mau makan di restoran Padang, bukan berarti harus ke Padang. Cukup ada disini...".

Sesampainya di Sorong, beberapa kekhawatiran yang dirasakan saat di Jakarta sirna sudah. Alhamdulillah Allah masih menjagaku dari makanan haram (seperti B2) yang katanya banyak beredar, tidak kutemui karena kami selalu mendapat undangan makanan bersama yang insya allah terjaga kekhalalannya (terlihat dari sang pemilik runah makan dan dari pramusajinya yang mengenakan jilbab). Dari sini juga hilang sudah image seorang relawan yang identik dengan makan seadanya.

Kekhawatiran lain adalah saat seorang teman yang menakutiku atas ancaman terjangkitnya penyakit malaria dan ditambah lagi hasil membaca di berbagai blog orang yang sudah berpengalaman kesana yang mengabarkan bahwa disana adalah daerah endemik malaria sehingga diharuskan untuk vaksin anti malaria sebelum berangkat kesana. Awalnya aku berniat untuk ke Puskesmas yang dekat dari kantor, tapi apalah daya minggu-minggu sebelum hari keberangkat aku justru disibbukkan dengan pekerjaan sehingga tak sempat vaksin. Sebagai bentuk usaha lain akhirnya aku ke apotek untuk membeli obat pencegah malaria dan sempat meminumnya malam sebelum berangkat. Sesampainya di Sorong, aku mendapat informasi bahwa seseorang yang jika tergigit nyamuk Anopheles tidak akan langsung sakit malaria jika daya tahan tubuhnya kuat. Jadi bisa saja saat ini digigit nyamuk tapi sakitnya tahun depan jika daya tahan tubuhnya sedang drop. Jadi intinya jaga stamina dan pesan dari Ibu Dhida, "Banyak makan selama hidup di Sorong, jangan sampai kelaperan".

Hal lain yang sempat aku khawatirkan adalah keperluan ibadah. Saya berpikir bahwa di Sorong itu daerah minoritas muslim sehingga akan kesulitan dalam hal ibadah ternyata salah. Saat diantar petugas hotel ke kamar, saya langsung diberi tahu arah kiblat. Disini saya sudah sangat bersyukur dan merasa dihargai. Seperti yang dikatakan oleh Cak Dono dalam bukunya, "Orang Indonesia bagian barat perlu belajar toleransi beragama dengan orang-orang di Indonesia Timur". Disepanjang jalan yang dilewati pun banyak terlihat masjid yang bangunannya besar dan indah. Aku juga mendengar suara adzan di waktu-waktu yang menunjukkan masuknya waktu sholat. Alhamdulillah.


Trip to Raja Ampat

Mumpung sudah sampai ke tanah Papua, kami satu tim relawan Kemenkeu Mengajar kompak untuk menyempatkan mengunjungi Raja Ampat. Dengan paket yang ditawarkan adalah Rp 1.350.000 per orang selama satu hari. Katanya sih... tidak akan cukup satu bulan untuk menyusuri keindahan pulau-pulau Raja Ampat. Tapi, satu hari saja sudah cukup sebagai "bonus" sudah jauh-jauh menjadi relawan.

Dan inilah rekam jejak "Jilbab Traveler : Goes to Raja Ampat"

Pukul 06.00 kami sudah dijemput dari hotel (kami menginap di Hotel Indah). Jarak dari hotel ke pelabuhan cukip dekat dengan jarak tempuh sekitar 5 menit versi Sorong.
Saat menunghu kedatangan kapal
Rombongan kami berjumlah dua belas orang. Perjalanan laut yang ditempuh dari pelabuhan ke Raja Ampat sekitar dua jam menggunakan perahu motor. Terombang-ambing di lautan selama seharian, dengan ombak besar yang kadang-kadang menghadang tidak membuat kami takut ataupun mabuk laut, ini semua karena suasana kekompakan yang penuh keceriaan selama di kapal. Hal yang paling seru adalah main tebak-tebakkan.


Setelah menempuh perjalanan dua jam, kami sampai di spot yang pertama, wilayah teluk Kabui. Di wilayah ini nampak gundukan pulau-pulau kecil yang sangat indah. Salah satu yang terkenal yaitu Batu Pensil. Sebuah pulau yang bentuknya berbeda dengan gugusan pulau lainnya yang berbentuk bulat. Batu Pensil berbentuk kerucut, lancip, menjulang ke atas.

Dibelakang foto nampak pulau-pulau disekotar Batu Pensil

Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Namun, karena kebutuhan untuk ke kamar mandi, kami dibawa ke sebuah pulau yang terdapat toilet umum, dekat dengan Batu Pensil, sekitar 5 menit. Di dekat toilet tersebut kami menemukan spot yang indah untuk berfoto. Pulau-pulau yang letaknya seperti gapura pintu masuk.

Menikmati jernihnya air laut

Setelah keperluan ke toilet terpenuhi dan berfoto di spot yang tersembunyi, kami melanjutkan perjalanan ke Piaynemo.  Waktu yang ditempuh sekitar empat puluh menit. Piaynemo adalah gugusan pulau-pulau kecil yang ditutup hijau tumbuhan. Untuk bisa menimati keindahannya kami harus menuju puncak salah satu pulau. Akses menuju puncak sudah dibangun anak tangga dari kayu sebanyak 300 anak tangga.




Setelah dari Piaynemo, kami melanjutkan ke Telaga Bintang. Hanya sekitar lima belas menit waktu yang ditempuh (kalau tidak salah ingat). Untuk menikmati keindahan Telaga Bintang kami harus menuju puncak pulau karang. Berbeda dengan Piaynemo yang sudah dibangun tangga dari kayu, di pulau karang ini kami benar-banar menaiki batu karang dengan pijakan yang sudah dilapisi semen. Trekking yang cukup sulit hanya dengan berpegangan batu karang yang terkadang tajam. Ini tantangan tersendiri bagiku, jilbab traveler yang menggunakan rok panjang.
Telaga berbentuk bintang

Pemandangan di seberang Telaga Bintang

Spot selanjutnya yang kami kunjungi adalah Pulau Arborek, sebuah pulau yang terdapat kampung wisata. Di spot inilah kami melakukan snorkling. Ada beberapa hal yang membuatku tidak beruntung disini. Pertama, aku tidak bisa berenang. Sebenarnya kami didampingi oleh guide yang siap memandu, tapi saat itu waktunya kurang tepat karena saat aku hendak menceburkan diri ke air, arusnya sangat kencang jadi kami diperintahkan untuk segera naik. Jadi, aku tak sempat berfoto dengan ikan-ikan cantik berwarna-warni dan terumbu karang yang indah. Untuk mengurangi penyesalan, aku akhirnya berenang di tepian pantai yang hanya melihat ikan dan karang yang kecil-kecil. Lumayanlah....



Oya... di kampung wisata ini aku melaksanakan sholat Sholat Dzuhur yang dijamak takdim dengan Ashar di rumah salah satu penduduk. Penduduknya ramah, hanya karena perbedaan dialek yang mungkin menyebabkab komunikasi kami kurang lancar. Saat kami berkumpul untuk makan siang, banyak anak-anak pulau yang mendekat. Kami diberitahu oleh tour guide kami bahwa anak-anak akan senang jika diminta menyanyi dan berfoto lalu sebagai ucapan terima kasih kami memberikan permen dan coklat kepada mereka. Padahal aku sudah niat ingin membawakan mereka mainan berupa puzle, apalah daya tak sempat membelinya sebelum berangkat ke Sorong.




Spot terakhir yang kami kunjungi adalah Pasir Timbul. Areal pasir putih di tengah-tengah lautan. Saat kami sampai kesana sekitar pukul empat sore. Kami sudah mendapat pesan dari tour guide agar tidak terlalu sore menuju Pasir Timbul, khawatir air laut keburu pasang sehingga pasirnya tidak tampak lagi (tidak timbul).



Pasir Timbul adalah destinasi terakhir kami menyusuri Raja Ampat dalam sehari. Saat jam menunjuk pukul lima sore kami menempuh perjalanan pulang menuju pelabuhan Sorong.

Ini rekam jejak kami di Raja Ampat yang diabadikan dalam bentuk video yang diambil oleh mas Ilham dengan bantuan Drone.






Demikianlah rekam jejak Jilbab Traveler : Goes to Raja Ampat. Keesokan harinya adalah kegiatan inti Melawat ke Timur : Kemenkeu Mengajar Sorong (nantikan kisah serunya).

So.... to be continued...


Jilbab Traveler : Melawat ke Timur
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

LATEST POSTS

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...
  • Duktek on Vacation, Edisi: Trip to Dieng
    Bermula dari obrolan ringan bersama seorang teman yang sangat ingin menikmati berlibur dengan menggunakan kereta api jarak jauh yang akhirny...
Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

  • Abdullah Mabruri
  • Kuliah Online

About Me

Foto saya
Arum Anggraeni
Orangnya sederhana aja yang ingin menulis hal-hal yang sederhana juga. Mencoba menulis untuk menyalurkan naluri kewanitaannya yang secara kodrati mampu menghasilkan 20.000 kata perhari. Semoga kata-kata tersebut tidak terbuang percuma, harapannya bisa memberikan manfaat.
Lihat profil lengkapku

Follow Us @arum.anggraeni

Followers

Featured Posts

Menu

  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Seo Services
  • Documentation
  • Download This Template

Archive

  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember 2019 (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (1)
  • ▼  2016 (24)
    • ▼  November 2016 (3)
      • Melawat ke Timur : Melambungkan Mimpi Anak Indonesia
      • Jilbab Traveler : Melawat ke Timur
      • Jilbab Traveler : Melawat ke Timur
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (4)
    • ►  Juli 2016 (2)
    • ►  Juni 2016 (4)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (4)
    • ►  Januari 2016 (2)
  • ►  2015 (11)
    • ►  November 2015 (3)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (2)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (1)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  April 2015 (2)
  • ►  2014 (10)
    • ►  Oktober 2014 (2)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juli 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (2)
    • ►  Mei 2014 (2)

THE LIFESTYLE

Find us on Facebook

Pages

  • Beranda

About Me

Popular Posts

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...

Advertisement

Copyright © 2015 Arum's Blog. Designed by OddThemes