• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Travel
  • Contact Us

Arum's Blog

"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak"-Helvy Tiana Rosa

Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, Tegal, Jawa Tengah. Disanalah aku dilahirkan. Sekitar tiga bulan umurku saat itu, aku berpindah ke rumah simbah, orang tua dari mamaku di Desa Murtirejo, Kebumen, Jawa Tengah. Disana banyak kenangan. Terlihat samar dalam kenanganku saat-saat kelahiran adikku di rumah itu. Saat bermain sepeda yang dibuat bapak dari kayu. Ya, aku dan adikku belajar berjalan menggunakan sepeda itu dengan mendorongnya. Dan betapa bahagianya ketika pertama kali kami memasang lampu listrik di rumah simbah. Sebelumnya rumah simbah hanya menggunakan lampu teplok.

Kira-kira umurku sebelas tahun, kami pindah rumah. Rumah kami yang baru, yang dibangun sendiri oleh bapakku. Masa-masa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama kuhabiskan di rumah ini. Rumahnya adem, mungkin karena dibuat dengan penuh rasa cinta oleh bapak dan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh mama. Tidak hanya aku yang selalu merindukan rumah ini, sanak saudara sepertinya juga betah untuk bermain-main di rumah mungil itu.

Saat umurku enam belas tahun, akhirnya aku meninggalkan rumah mungil itu untuk merantau. Singgah di rumah yang lain, yaitu di Jalan Pisang No. 18 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Awalnya sulit menjalani hari-hari di rumah itu. Hidup bersama orang-orang yang terasa asing saat itu. Aku terus mencoba beradaptasi. Harapan akan masa depan yang indah yang selalu menguatkan untuk tetap bertahan di rumah itu. Hari berganti tahun, aku pun menjadi sangat akrab dengan keluarga di rumah itu. Rumah ini adalah tempat tinggalku di tanah rantau dan penghuninya adalah keluargaku di tanah rantau. 

Seiring waktu, bertambah pula rumahku di tanah rantau ini saat ustadzah, guru ngajiku setiap hari Minggu, mengatakan bahwa rumahnya adalah Rumah Kedua bagi kami para anak didiknya. Bahagianya aku setiap berkunjung ke rumah keduaku. Bertemu dan berkumpul dengan saudara seiman dan seperjuangan, mengharap percikan ilmu yang akan mengantarkanku ke rumahku yang sebenarnya. Ya Allah, bangunkan rumah untukku di syurga. Amin
Rumah
Saat itu, 24 Desember 2013. Belum kutangkupkan kedua tanganku ke wajah sebagai tanda penutup doa di waktu subuh, hp berdering. Setelah berbalas salam terdengar suara orang yang menelpon di seberang sana "Selamat bergabung di kemenkeu, Mbakyu. Info selengkapnya lihat di web". Klik. Telpon ditutup. Ah, adikku(yang sudah lebih dulu masuk kemenkeu) ini bikin penasaran aja di pagi buta. Segera kulipat mukena, entah tadi doa apa yang terakhir ku ucap. Segera kunyalakan si putih lepi. Langsung cek ke web rekrutmen.kemenkeu.go.id.
Setelah jelas terpampang namaku sebagai peserta yang lulus seleksi CPNS Kementerian Keuangan 2013, segera ku ucap "Alhamdulillah". Tapi, ampuni aku Rabb, saat itu ungkapan syukurku hanya sebuah ungkapan rasa terima kasih atas karuniamu bahwa Engkau telah mendengar dan mengabulkan do'a-do'a terbaik dari orang-orang terkasihku. Ya, selama menjalani seleksi cpns(harapan keluarga besar) yang melalui prosedur yang menantang dan melelahkan itu, doaku adalah berikan kebahagiaan untuk dua keluargaku di Kebumen dan di Pasar Minggu. Jika salah satu kebahagiaan itu adalah dengan diterima nya aku menjadi cpns maka takdirkanlah aku untuk lulus dalam setiap tahap seleksi. Sungguh, Allah Maha Mendengar doa setiap hambaNya. Meski pernah terselip namaku saat pengumuman kelulusan Tes Kompetensi Dasar (TKD), Allah tidak tidur, Maha Melihat meskipun itu tersembunyi. Namaku tidak ada di lembaran pengumuman kelulusan. Sempat kecewa karena nilaiku harusnya memenuhi standar kelulusan tes tersebut. Aku pun pasrah. Namun akhirnya kebenaran pun terungkap, suatu hari, saat aku mulai terlelap dalam tidur siangku, telepon rumah berdering. Kakak sepupuku mengabarkan bahwa ada telepon untukku dari staff Kementerian Keuangan. Inti dari telepon itu adalah  ungkapan maaf dari panitia Seleksi CPNS Kementerian Keuangan atas kesalahan sistem yang terjadi saat pengumuman TKD kemaren. Dan staf tersebut mengabarkan bahwa aku lulus beserta seratusan peserta lainnya yang namanya terselip di pengumuman. Staf tersebut juga mengundangku untuk mengikuti tes selanjutnya yaitu psikotes. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Itulah ungkapan syukur dari seorang yang tidak mencita-citakan untuk menjadi PNS. Berbeda dengan keluarga. Luar biasa rasa syukur mereka. Kebahagiaan terasa saat aku mengabarkan orang tua melalui telepon. Esok harinya, kakak ku memasak nasi kuning untuk syukuran bersama ibu-ibu pengajian majelis taklim. So, setiap aku bertemu dengan ibu-ibu di sekitar rumah, ucapan selamat mengalir begitu saja. Terpancar keikhlasan dari mereka dan diiringi kebahagiaan. Sungguh situasi ini sangat kontras dengan apa yang ada di hatiku.
Hari berganti bulan kujalani di meja birokrasi ini. Masih terus mencoba menjalani dengan ikhlas. Mencari celah-celah menumbuhkan cinta untuk profesi ku saat ini. Seperangkat komputer, satu pesawat telepon, buku Uraian Jabatan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (yang seperti bantal karena saking tebalnya kalau aku baca malah jadi ngantuk), Buku 3 Kebijakan Pengelolaan Layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi Direktorat Jenderal Pajak (dua buku ini diberikan oleh Kasi Pelayanan Sistem, tempatku magang saat ini), plastic storage cabinet, satu mangkok beling imut (warisan dari penghuni sebelumnya). Barang-barang penghuni meja kerjaku ini menjadi saksi usahaku menemukan cinta pada DJP. Witing tresna jalaran saka kulina. Kekeluargaan di lingkungan seksi lasis (Pelayanan Sistem) terutama dan Direktorat Teknologi Informasi perpajakan (DTIP) pada umumnya , kekompakan sepuluh anggota magang turut andil menjadi makcomblang pencarian cintaku ini. Dan proses belajarku sebagai seorang call center untuk seksi lasis membuatku semakin sadar betapa pentingnya peranku. Menjembatani pegawai di KPP (Kantor Pelayanan Pajak) yang mengalami permasalahan sistem di aplikasi perpajakan. Dengan terselesaikannya masalah sistem di KPP, aktivitas pembayaran pajak pun menjadi lancar, pendapatan negara bertambah dan insyaallah pembangunan semakin lancar dan sesuai kutipan pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4, untuk memajukan kesejahteraan umum (Heemmm,,,, dulu ketika smp disuruh menuliskan cita-cita, kutulis ingin menjadi guru dengan alasan turut mencerdaskan kehidupan bangsa, masih dikutip dari pembukaan UUD '45 alinea 4). Subhanallah, mulia sekali pekerjaanku saat ini. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Saat ini cinta itu telah bersemi, akan kujaga agar tumbuh dengan baik. Awalnya kecemplung. Sekarang sedang belajar berenang.

Dulu ketika ditanya orang, "Kerja dimana sekarang?". Aku hanya menjawab, "Gatot Subroto". Dan sekarang jika ada yang bertanya dimana aku bekerja, akan kujawab dengan bangga, "Di kantor pajak pusat".
Witing Tresna Jalaran Saka Kulina
Postingan Lebih Baru Beranda

LATEST POSTS

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...
  • Duktek on Vacation, Edisi: Trip to Dieng
    Bermula dari obrolan ringan bersama seorang teman yang sangat ingin menikmati berlibur dengan menggunakan kereta api jarak jauh yang akhirny...
Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

  • Abdullah Mabruri
  • Kuliah Online

About Me

Foto saya
Arum Anggraeni
Orangnya sederhana aja yang ingin menulis hal-hal yang sederhana juga. Mencoba menulis untuk menyalurkan naluri kewanitaannya yang secara kodrati mampu menghasilkan 20.000 kata perhari. Semoga kata-kata tersebut tidak terbuang percuma, harapannya bisa memberikan manfaat.
Lihat profil lengkapku

Follow Us @arum.anggraeni

Followers

Featured Posts

Menu

  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Seo Services
  • Documentation
  • Download This Template

Archive

  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember 2019 (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (1)
  • ►  2016 (24)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (4)
    • ►  Juli 2016 (2)
    • ►  Juni 2016 (4)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (4)
    • ►  Januari 2016 (2)
  • ►  2015 (11)
    • ►  November 2015 (3)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (2)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (1)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  April 2015 (2)
  • ▼  2014 (10)
    • ►  Oktober 2014 (2)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juli 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (2)
    • ▼  Mei 2014 (2)
      • Rumah
      • Witing Tresna Jalaran Saka Kulina

THE LIFESTYLE

Find us on Facebook

Pages

  • Beranda

About Me

Popular Posts

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...

Advertisement

Copyright © 2015 Arum's Blog. Designed by OddThemes