Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, Tegal, Jawa Tengah. Disanalah aku dilahirkan. Sekitar tiga bulan umurku saat itu, aku berpindah ke rumah simbah, orang tua dari mamaku di Desa Murtirejo, Kebumen, Jawa Tengah. Disana banyak kenangan. Terlihat samar dalam kenanganku saat-saat kelahiran adikku di rumah itu. Saat bermain sepeda yang dibuat bapak dari kayu. Ya, aku dan adikku belajar berjalan menggunakan sepeda itu dengan mendorongnya. Dan betapa bahagianya ketika pertama kali kami memasang lampu listrik di rumah simbah. Sebelumnya rumah simbah hanya menggunakan lampu teplok.
Kira-kira umurku sebelas tahun, kami pindah rumah. Rumah kami yang baru, yang dibangun sendiri oleh bapakku. Masa-masa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama kuhabiskan di rumah ini. Rumahnya adem, mungkin karena dibuat dengan penuh rasa cinta oleh bapak dan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh mama. Tidak hanya aku yang selalu merindukan rumah ini, sanak saudara sepertinya juga betah untuk bermain-main di rumah mungil itu.
Saat umurku enam belas tahun, akhirnya aku meninggalkan rumah mungil itu untuk merantau. Singgah di rumah yang lain, yaitu di Jalan Pisang No. 18 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Awalnya sulit menjalani hari-hari di rumah itu. Hidup bersama orang-orang yang terasa asing saat itu. Aku terus mencoba beradaptasi. Harapan akan masa depan yang indah yang selalu menguatkan untuk tetap bertahan di rumah itu. Hari berganti tahun, aku pun menjadi sangat akrab dengan keluarga di rumah itu. Rumah ini adalah tempat tinggalku di tanah rantau dan penghuninya adalah keluargaku di tanah rantau.
Seiring waktu, bertambah pula rumahku di tanah rantau ini saat ustadzah, guru ngajiku setiap hari Minggu, mengatakan bahwa rumahnya adalah Rumah Kedua bagi kami para anak didiknya. Bahagianya aku setiap berkunjung ke rumah keduaku. Bertemu dan berkumpul dengan saudara seiman dan seperjuangan, mengharap percikan ilmu yang akan mengantarkanku ke rumahku yang sebenarnya. Ya Allah, bangunkan rumah untukku di syurga. Amin
Rumah
Saat itu, 24 Desember 2013. Belum
kutangkupkan kedua tanganku ke wajah sebagai tanda penutup doa di waktu
subuh, hp berdering. Setelah berbalas salam terdengar suara orang yang
menelpon di seberang sana "Selamat bergabung di kemenkeu, Mbakyu. Info
selengkapnya lihat di web". Klik. Telpon ditutup. Ah, adikku(yang sudah
lebih dulu masuk kemenkeu) ini bikin penasaran aja di pagi buta. Segera
kulipat mukena, entah tadi doa apa yang terakhir ku ucap. Segera
kunyalakan si putih lepi. Langsung cek ke web
rekrutmen.kemenkeu.go.id.
Setelah jelas terpampang namaku sebagai peserta yang lulus
seleksi CPNS Kementerian Keuangan 2013, segera ku ucap "Alhamdulillah".
Tapi, ampuni aku Rabb, saat itu ungkapan syukurku hanya sebuah ungkapan
rasa terima kasih atas karuniamu bahwa Engkau telah mendengar dan
mengabulkan do'a-do'a terbaik dari orang-orang terkasihku. Ya, selama
menjalani seleksi cpns(harapan keluarga besar) yang melalui prosedur yang menantang dan
melelahkan itu, doaku adalah berikan kebahagiaan untuk dua keluargaku di
Kebumen dan di Pasar Minggu. Jika salah satu kebahagiaan itu adalah
dengan diterima nya aku menjadi cpns maka takdirkanlah aku untuk lulus
dalam setiap tahap seleksi. Sungguh, Allah Maha Mendengar doa setiap
hambaNya. Meski pernah terselip namaku saat pengumuman kelulusan Tes
Kompetensi Dasar (TKD), Allah tidak tidur, Maha Melihat meskipun itu
tersembunyi. Namaku tidak ada di lembaran pengumuman kelulusan. Sempat
kecewa karena nilaiku harusnya memenuhi standar kelulusan tes tersebut.
Aku pun pasrah. Namun akhirnya kebenaran pun terungkap, suatu hari, saat
aku mulai terlelap dalam tidur siangku, telepon rumah berdering. Kakak
sepupuku mengabarkan bahwa ada telepon untukku dari staff Kementerian
Keuangan. Inti dari telepon itu adalah ungkapan maaf dari panitia
Seleksi CPNS Kementerian Keuangan atas kesalahan sistem yang terjadi
saat pengumuman TKD kemaren. Dan staf tersebut mengabarkan bahwa aku
lulus beserta seratusan peserta lainnya yang namanya terselip di
pengumuman. Staf tersebut juga mengundangku untuk mengikuti tes
selanjutnya yaitu psikotes. Sungguh, nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Itulah ungkapan syukur dari seorang yang tidak mencita-citakan
untuk menjadi PNS. Berbeda dengan keluarga. Luar biasa rasa syukur
mereka. Kebahagiaan terasa saat aku mengabarkan orang tua melalui
telepon. Esok harinya, kakak ku memasak nasi kuning untuk syukuran
bersama ibu-ibu pengajian majelis taklim. So, setiap aku bertemu dengan
ibu-ibu di sekitar rumah, ucapan selamat mengalir begitu saja. Terpancar
keikhlasan dari mereka dan diiringi kebahagiaan. Sungguh situasi ini
sangat kontras dengan apa yang ada di hatiku.
Hari berganti bulan kujalani di meja birokrasi ini.
Masih terus mencoba menjalani dengan ikhlas. Mencari celah-celah
menumbuhkan cinta untuk profesi ku saat ini. Seperangkat komputer, satu
pesawat telepon, buku Uraian Jabatan Kantor Pusat Direktorat Jenderal
Pajak (yang seperti bantal karena saking tebalnya kalau aku baca malah
jadi ngantuk), Buku 3 Kebijakan Pengelolaan Layanan Teknologi Informasi
dan Komunikasi Direktorat Jenderal Pajak (dua buku ini diberikan oleh
Kasi Pelayanan Sistem, tempatku magang saat ini), plastic storage
cabinet, satu mangkok beling imut (warisan dari penghuni sebelumnya).
Barang-barang penghuni meja kerjaku ini menjadi saksi usahaku menemukan
cinta pada DJP. Witing tresna jalaran saka kulina. Kekeluargaan di
lingkungan seksi lasis (Pelayanan Sistem) terutama dan Direktorat
Teknologi Informasi perpajakan (DTIP) pada umumnya , kekompakan sepuluh anggota
magang turut andil menjadi makcomblang pencarian cintaku ini. Dan proses
belajarku sebagai seorang call center untuk seksi lasis membuatku
semakin sadar betapa pentingnya peranku. Menjembatani pegawai di KPP
(Kantor Pelayanan Pajak) yang mengalami permasalahan sistem di aplikasi
perpajakan. Dengan terselesaikannya masalah sistem di KPP, aktivitas
pembayaran pajak pun menjadi lancar, pendapatan negara bertambah dan
insyaallah pembangunan semakin lancar dan sesuai kutipan pada Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke-4, untuk memajukan kesejahteraan umum
(Heemmm,,,, dulu ketika smp disuruh menuliskan cita-cita, kutulis ingin
menjadi guru dengan alasan turut mencerdaskan kehidupan bangsa, masih
dikutip dari pembukaan UUD '45 alinea 4). Subhanallah, mulia sekali
pekerjaanku saat ini. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Saat ini cinta itu telah bersemi, akan kujaga agar tumbuh dengan baik. Awalnya kecemplung. Sekarang sedang belajar berenang.
Dulu ketika ditanya orang, "Kerja dimana sekarang?". Aku hanya menjawab,
"Gatot Subroto". Dan sekarang jika ada yang bertanya dimana aku
bekerja, akan kujawab dengan bangga, "Di kantor pajak pusat".
Witing Tresna Jalaran Saka Kulina