Hari sudah seperti hari tenang saja. Berasa santai, padahal masih harus berangkat kerja dua hari lagi. Sempet diledekin tetangga juga karena masih harus berangkat pagi-pagi.
Jalanan sudah mulai lengang. Alhamdulillah lancar.Sesampainya di kantor sempet kaget, suasananya berubah seperti sekolah TK. Banyak anak kecil. Ya, sebagian ibu-ibu pegawai membawa serta anak-anaknya karena yang biasa menjaga anaknya di rumah sudah mudik duluan.
Zahra, anak dari Mba Fifi memang sudah ikut ke kantor sejak hari Senin lalu. Dan sekarang ditambah Fara, Azka dan Salma, tiga putri cantiknya Mba Nani. Ada juga si kecil Lila yang belum genap berumur satu tahun. Aku memang suka anak kecil jadi langsung akrab sama mereka. Apalagi Lila langsung nemplok sampai ngga mau digendong uminya. Dan diledekin juga sama pegawai yang lainnya. Katanya aku sepantaran sama mereka. Tubuhku yang mungil ini hampir sama dengan Fara yang baru kelas empat SD.
Heemmm, semoga hari ini penuh berkah dan diselimuti kebahagiaan. Menjelang hari-hari terakhirku di Lasis dan Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan.
Dan sekarang saatnya melanjutkan Join Domain di Direktorat Peraturan Peraturan Perpajakan II, masih ada laptop yang butuh penanganan khusus.
Ayo semangat bekerja.
Hari Tenang
3 Juli 2014
Hari pertama masuk kerja kembali setelah 24 hari mengikuti Diklat Prajabatan.
07.09, waktu yang tertera di mesin absensi. Awal yang bagus. Ruangan masih agak sepi. Mba Lusy yang pertama menyadari kedatanganku. "Yeee... akhirnya datang juga", teriaknya dari meja kerjanya yang sesaat kemudian menghampiriku dan mengajak berjabat tangan. Sambutan hangat yang luar biasa.
"Bunyi telepon sudah meraung-raung mencarimu", tambah Mba Fifi yang sudah dengan sikap pokok di meja berjanya dengan berkalung bantal di lehernya.
Terlihat beberapa mata tertuju padaku. Ada Mas Kristian, Pak Hermawan dan Pak Wanto yang selalu hadir lebih pagi. Terdengar suara-suara bahagia karena "sang pengangkat telepon" sudah kembali. Ya, sebuah pekerjaan yang paling dihindari di seksiku.
Tak lama kemudian datanglah Mba Erna, si cantik yang selalu ceria. "Hey, Arum. Long time no see". Aku hanya membalas dengan senyum manis yang aku punya (meski rasanya ngantuk banget pagi ini). Disusul dengan Mba Nani yang baru saja mendarat masih lengkap dengan jaket motornya menyambutku dengan jabatan tangan. Subhanallah, bagiku ini sambutan yang luar biasa dari rekan-rekan di Seksi Lasis.
Setelah bertemu dan berkumpul dengan teman-teman magang lain (karena kami tersebar di empat tempat diklat yang berbeda) dan sempat ngobrol juga dengan Bapak Iwan selaku Direktur TIP, kami pun kembali ke meja kerja masing-masing. Disela-sela jam istirahat siang aku sempat mengobrol dengan Mba Nani dan Mba Fifi berbagi cerita seputar Diklat Prajab . Dan disini juga aku akan berbagi pengalaman selama 24 hari yang lalu. Jadi begini ceritanya,
8 Juni 2014, hari dimana para calon siswa Diklat Prajabatan Golongan 3 Tahun Anggaran 2014 melakukan registrasi. Saat itu pula pembagian kamar untuk tempat kami menginap selama diklat. Dan aku mendapatkan kamar di Mess Putri 06. Lokasinya berbeda dengan peserta diklat lainnya. Di mess itu hanya ada 4 kamar untuk siswi, 2 kamar untuk panitia dan 1 ruangan sekretariat. Dan aku satu kamar dengan Brenda, siswi dari KPP Madya Jakarta Timur.
Kegiatan di malam pertama adalah registrasi ulang, upacara pembukaan dan ditutup dengan pembagian 12 modul yang akan dipelajari selama diklat. Tiga hari pertama diisi dengan kegiatan bela negara. Kegiatannya full fisik di lapangan. Dimulai dari lari keliling Komplek PU Lebak Bulus (oya aku mendapatkan lokasi diklat di Pusdiklat PU Lebak Bulus) dan dilanjutkan senam pagi. Setelah itu langsung sarapan nasi kotak (selama 3 hari itu kami makan di lapangan baik pagi, siang maupun malam). Mulai hari itu juga kami mengetahui bahwa makan juga dihitung. Apabila dalam hitungan ke sekian (yang sudah ditentukan Pelatih dari Kopasus) belum habis maka kami akan dihukum, mulai dari loncat-loncat ditempat sampai ngguling di lapangan. Setelah makan dilanjutkan aktivitas menyapu lapangan dengan ngguling dan merayap punggung, lari kesana kemari. Pokoknya kami harus melaksanakan apa yang diperintahkan sang Pelatih. kami dididik untuk memiliki jiwa korsa yang tinggi. Jika ada 1 atau beberapa teman yang tidak ataupun tertinggal dalam melaksanakan apa yang diperintahkan pelatih maka teman satu angkatan akan menerima hukuman. jadi kami harus saling membantu dan menyemangati satu sama lain. Begitu juga saat makan. Jika ada yang belum habis maka akan dibagikan kepada teman-teman untuk menghabiskan bersama-sama.
Di tiga hari itu benar-benar menguras tenaga. Bahkan banyak yang muntah saat kami menggulung. Termasuk diriku. Aku masuk kedalam "pasukan bodrex" sebutan untuk pasukan yang sedang sakit. Tetap melakukan kegiatan yang berat itu tapi tidak seberat dengan pasukan yang sehat lainnya karena kami terpisah barisannya. Di hari kedua saat mengguling, aku hilang arah. Tanpa sadar aku hampir menabrak gawang bola, langsung di teriakin sama pelatih. Sontak aku langsung berhenti dan pandanganku langsung kabur, berputar-putar dan mual tak tertahan lagi.
Sekian dulu ceritanya. Sudah jam 16.03. Saatnya pulang. Besok sambung lagi ceritanya. Insya Allah
Usai Prajab