• Home
  • Download
    • Premium Version
    • Free Version
    • Downloadable
    • Link Url
      • Example Menu
      • Example Menu 1
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Travel
  • Contact Us

Arum's Blog

"Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan amalmu di akhirat kelak"-Helvy Tiana Rosa

Kalau tulisan sebelumnya yang berhubungan dengan jahit menjahit merupakan hasil jahitan tangan sendiri, kali ini aku hanya ingin berkisah hasil jahitan salah seorang penjahit langganan mama di kampung yang akhirnya aku pun menjadi pelanggan setianya juga. Pertama kali aku menjahit baju seragam batik untuk di kantor. Saat mengetahui rekan-rekan kerja bisa menghabiskan uang sampai 200 sampai 500ribu hanya untuk ongkos jahitnya saja, menurutku itu berlebihan. Apalagi setelah mengetahui ongkos jahit di kampungku yang masih berkisar 50ribu. Hasilnya pasti beda, tapi tidak kalah jauh kok secara kualitas. Ini terbukti saat aku memakai baju hasil jahitan dari kampung dan mengabarkan ongkosnya yang amat sangat murah, rekan-rekan di kantor justru berkeinginan untuk menitipkan jahitan ke kampungku.

Dengan niat membantu menambah pelanggan si penjahit, maka aku bersedia membawa kain-kain milik teman-teman yang akan dijahit. Kain-kain tersebut aku bawa saat aku pulang kampung. Dan jika sudah selesai akan aku bawa ke Jakarta di kesempatan pulang kampung selanjutnya. (biasanya jadwal pulang kampungku rata-rata sebulan sekali). Selain membawa kain aku juga membawa contoh model baju yang diinginkan beserta ukurannya. Bagi teman-teman yang tidak tahu detail ukuran baju bisa membawa baju jadi yang sudah cocok ukurannya.

Aku tidak mengambil untung dari jasa ini. Memberitahukan harga ongkos jahit kepada teman-teman sesuai yang diberikan oleh tukang jahit. Biasanya sudah ada rincian biaya di setiap bajunya (ongkos jahit, harga tambahan kain, dll). 

Berikut beberapa hasil jahitan yang sempat didokumentasikan:
Maklum, bukan penual online jadi kualitas gambarnya kurang bagus. Tapi untuk semua teman-teman yang sudah menitipkan jahitan mereka puas dengan hasilnya. (gambar di atas hanya sebagian saja, yang lain tidak sempat di dokumentasikan).

Dan ini beberapa bajuku yang dijahit di kampung:





Jahit Menjahit
Terinspirasi dari sorang teman yang membuatkan rok tutu untuk anaknya. Awalnya aku tidak tau sebutan rok tutu tersebut. Setelah browsing kesana kemari aku mulai tertarik untuk membuatnya karena cukup simpel.

Baru menyadari sepertinya aku ada minat dalam hal kerajinan tangan khususnya jahit menjahit. Sempet menyesal karena sewaktu sekolah dulu ada kegiatan ekstrakurikuler tata busana, tapi tidak diikuti dengan serius. Sampai sekarang juga ga serius-serius amat sih ngejahitnya. heee

Setelah mencari tutorial pembuatan rok tutu, ternyata pembuatan tidak melibatkan jahit menjahit. Pertama siapkan bahan yaitu kain tile seperti gambar:
Kain tile merupakan kain yang bolong-bolong seperti jaring. Kain ini aku beli di salah satu toko kain di Pasar Minggu. Aku membeli 2 meter dengan harga Rp 20.000/meter. Sudah ditawar tetep tidak bisa. Sudah harga pas katanya. Atau mungkin aku yang tidak pandai menawar. Tapi memang kain yang aku beli kain yang jenisnya lebih halus. Kalau yang agak kasar harganya Rp 15.000/meter. Bahan lainnya adalah karet elastis.

Pertama potong-potong kain dengan panjang sesuai keinginan panjang rok. Lebarnya aku sih hanya kira-kira. Hihiiii,,, ketahuan kan kalau mulai ga serius dalam membuat kerajinan tangan.

Setelah itu kaitkan ke karet elastis (duhhh bingung ngejelasinnya. Lihat gambar aja ya...)
Kaitkan kain tile sampai karetnya tertutup semuanya. Bahan 2 meter sepertinya masih kurang soalnya jaraknya masih renggang. Setelah itu sambung ujung karet dengan cara menjahit (masih dengan tangan pastinya). Dan inilah hasilnya...
Meski kurang puas dengan hasilnya, tapi tetap istimewa....

Rok tutu ini dihadiahkan untuk ponakan. Semoga suka ya...







Rok Tutu
Ide membuat sarung bantal muncul secara tiba-tiba saat melihat sarung bantal kesayangan yang sudah mulai koyak. Sisa kain untuk membuat mukena waktu itu (baca kisahnya disini) sepertinya bisa dimanfaatkan.

Ide ini juga muncul saat membuat rundown acara untuk mengisi waktu liburan cuti tahunan. Dikarenakan gagal rencana jalan-jalan ke pulau seberang (digantikan dengan jalan-jalan bersama keluarga ke kota istimewa), jadilah aku memikirkan kegiatan yang bisa dikerjakan di sisa waktu cuti. Dari Jakarta sudah kusiapkan perlengakapannya seperti bahan kain katun sisa mukena, kain flanel, aneka benang, jarum dan perlengkapan menjahit lainnya. Sudah tergambar kreasi apa aja yang akan dibuat selama libur 5 hari.

Daaaannn... dari beberapa rencana itu hanya satu yang terealisasi, yaitu sarung bantal ala-ala kain perca. Hasilnya pun alakadarnya. Ini masih edisi menjahit dengan tangan. Taraaa....

Seperti apapun hasilnya kalau buatan sendiri, rasanya istimewa...(bacanya ala cibi-cibi ya.. hihiiii)
Sarung Bantal Kain Perca
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

LATEST POSTS

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...
  • Duktek on Vacation, Edisi: Trip to Dieng
    Bermula dari obrolan ringan bersama seorang teman yang sangat ingin menikmati berlibur dengan menggunakan kereta api jarak jauh yang akhirny...
Diberdayakan oleh Blogger.

Kunjungi Juga

  • Abdullah Mabruri
  • Kuliah Online

About Me

Foto saya
Arum Anggraeni
Orangnya sederhana aja yang ingin menulis hal-hal yang sederhana juga. Mencoba menulis untuk menyalurkan naluri kewanitaannya yang secara kodrati mampu menghasilkan 20.000 kata perhari. Semoga kata-kata tersebut tidak terbuang percuma, harapannya bisa memberikan manfaat.
Lihat profil lengkapku

Follow Us @arum.anggraeni

Followers

Featured Posts

Menu

  • Features
  • _Multi DropDown
  • __DropDown 1
  • __DropDown 2
  • __DropDown 3
  • _ShortCodes
  • _SiteMap
  • _Error Page
  • Seo Services
  • Documentation
  • Download This Template

Archive

  • ►  2019 (1)
    • ►  Desember 2019 (1)
  • ►  2018 (3)
    • ►  Agustus 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (1)
    • ►  Januari 2018 (1)
  • ►  2017 (3)
    • ►  Desember 2017 (1)
    • ►  Oktober 2017 (1)
    • ►  September 2017 (1)
  • ►  2016 (24)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (4)
    • ►  Juli 2016 (2)
    • ►  Juni 2016 (4)
    • ►  Mei 2016 (2)
    • ►  Februari 2016 (4)
    • ►  Januari 2016 (2)
  • ▼  2015 (11)
    • ▼  November 2015 (3)
      • Jahit Menjahit
      • Rok Tutu
      • Sarung Bantal Kain Perca
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (2)
    • ►  Juli 2015 (1)
    • ►  Juni 2015 (1)
    • ►  Mei 2015 (1)
    • ►  April 2015 (2)
  • ►  2014 (10)
    • ►  Oktober 2014 (2)
    • ►  Agustus 2014 (2)
    • ►  Juli 2014 (2)
    • ►  Juni 2014 (2)
    • ►  Mei 2014 (2)

THE LIFESTYLE

Find us on Facebook

Pages

  • Beranda

About Me

Popular Posts

  • Bertamu ke Rumah Allah
    Sebelumnya aku pernah bercerita tentang rumahku. Kisahnya bisa dibaca disini . Dan saat ini rumahku sudah bertambah, yakni rumah kos, rumah ...
  • Rumah
    Terlalu banyak rumah untuk kusinggahi. Rumah pertama yang aku kenal adalah rumah simbah, orang tua dari bapak-ku di desa Kesambi, Prupuk, T...
  • Bunga dan Mawar
    Bunga, hobinya membaca buku. Hobinya ini bukan seperti jawaban klise yang biasanya aku tuliskan ketika ada pertanyaan, "Apa hobimu?...

Advertisement

Copyright © 2015 Arum's Blog. Designed by OddThemes