Menulis Tulisan
Tulisan ini akan menjadi tulisan
perdana di Tahun 2017 yang menghiasi halaman blog ini, karena ternyata
postingan terakhir tertanggal 24 November 2016. Tulisan ini juga akan menjadi istimewa bagi si empunya, karena mulai ditulis bertepatan dengan Hari Literasi
Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 September. Saat banyak pihak
yang merayakan hari tersebut dengan kegiatan-kegiatan menarik seputar literasi
seperti bedah buku, talkshow, penambahan jumlah koleksi buku di perpustakaan
dll, aku cukup menambah koleksi tulisan di blog sebagai wujud partisipasi dalam
mengisi Hari Literasi Internasional tahun ini dan sebagai bentuk dukungan kepada Kemendikbud RI dalam upaya “Membangun
Budaya Literasi di Era Digital” sesuai tema yang diusung di Hari Literasi tahun ini.
Di postingan kali ini aku ingin
menulis seputar kepenulisan yang sebenarnya sebuah pelampiasan karena belum ada
ide untuk menulis dalam rangka mengikuti lomba dari sekian banyak list lomba
menulis yang dateline-nya bulan September. Selain itu, motivasi mencoba menulis
kembali karena diingatkan oleh seorang teman (dia yang menyodorkan list lomba
menulis) bahwa bagi kami yang bergolongan darah B, cocok untuk menjadi penulis.
Sungguh pernyataan ini sudah membuatku ke-ge-er-an. Benar-benar berharap bisa
menjadi penulis hanya karena hasil tes darah semasa SMP menunjukkan bahwa aku
bergolongan darah B. Tapi setelah beberapa hari mencoba untuk menggali ide tema
penulisan dari lomba yang ditawarkan masih tetap saja nihil, aku pun meragukan perkataannya.
Alih-alih mencari ide cerita
untuk menulis, aku malah mencari kebenaran atas informasi tentang profesi yang
cocok berdasarkan golongan darah. Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa
profesi yang cocok bagi orang yang bergolongan darah B adalah jurnalis, traveller dan seniman. Hasil penelitian justru
tertulis jurnalis bukan penulis, karena penulis justru cocok bagi mereka yang
bergolongan darah AB. Berikut ini adalah perbedaan definisi dari jurnalis dan
penulis berdasarkan https://kbbi.web.id :
jurnalis/jur·na·lis/ n orang yang pekerjaannya mengumpulkan dan menulis berita
dalam surat kabar dan sebagainya; wartawan
penulis /pe·nu·lis /n 1 orang yang menulis; 2 pengarang: ~ naskah; 3 panitera; sekretaris; setia usaha; 4 pelukis; penggambar;~ cepat orang yang
menulis dengan huruf steno; ~ tajuk anggota
redaksi yang ditugaskan menulis tajuk rencana pada surat kabar atau majalah;
Dari paparan hasil penelitian
kecocokan golongan darah dengan profesi dan dari definisi dua kata tersebut, menjadikanku semakin bingung, karena dirasa-rasa aku sangat jauh dari dunia jurnalistik.
Atau memang sebaiknya aku menjadi traveller
atau seniman (Jalan-jalan bareng Si Unyil atau Si Bolang sepertinya menyenangkan, heeee, ini sekedar mimpi di siang bolong atau teman makan siang di kantor saat jam makanku berbeda dengan rekan lainnya. Soalnya kalau menjadi seniman sepertinya masih berupa bakat yang terpendam. Oke mungkin ini bisa
menjadi bahan tulisan selanjutnya dalam hal penggalian potensi diri. Heeeee).
Berbeda dengan temanku yang jelas-jelas bergolongan darah B (kok seolah-olah jadi
meragukan golongan darah sendiri yaaaa), mantan penulis redaksi yang sekarang
lebih memilih untuk bekerja di sebuah organisasi sosial, dia baru saja memenangkan
lomba menulis berita yang dimuat di Medika, sebuah Jurnal Kedokteran Indonesia.
Selain itu dia juga sudah beberapa kali memenangkan lomba menulis. “Selamat ya,
Kawan”. Berdasarkan pengalamannya, dia pun akhirnya meng-iya-kan hasil penelitian
kecocokan profesi berdasarkan golongan darah karena katanya dia pun masih
kesulitan untuk menulis sebuah cerpen, sebab spesialisasinya adalah menulis
berita.
Motivasi menulis juga datang dari ungkapan seorang teman yang lain yang menyatakan
bahwa dengan menulis bisa mengendalikan emosi, sebuah keterampilan olah jiwa yang sangat
dibutuhkan oleh seorang ibu, katanya. Aku sangat tertarik dengan ungkapan yang
sangat menginspirasi ini. Aku pun mulai mencari sumbernya, tapi belum menemukan
sampai sekarang. Setelah meminta konfirmasi dari temanku, ternyata ungkapan tersebut
adalah salah satu hikmah yang dipetik olehnya saat mengikuti kajian parenting bersama Ustadz Bendri
Jaisyurrahman yang sangat memotivasinya untuk mulai menulis. Baiklah, aku juga akan
belajar menulis supaya lebih bisa mengontrol emosi dan kelak bisa menjadi ibu yang
baik.
Sebelum tawaran list
lomba menulis dengan dateline bulan September, ada temanku yang lain yang
menawariku untuk mengikuti lomba menulis di tempat kerjanya, sebuah stasiun
televisi. Penawaran tersebut H-3 penutupan lomba tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2017 dan penutupan lomba pada tanggal 20 Agustus 2017. Aku memaksakan diri untuk
mengikuti lomba tersebut dengan tidak memperhatikan lawan-lawanku, yakni para
jurnalis di stasiun televisi tersebut karena lomba tersebut sebenarnya
diperuntukan bagi para karyawan. Pastilah tulisanku itu sudah kalah jauh
dibanding mereka. Temanku yang bekerja di stasiun televisi ini juga bergolongan
darah B yang belum menekuni dunia jurnalistik dan mengaku tidak berbakat
menulis, tapi suka travelling dan jabatan di
kantornya sebagai sekretaris.
Teman-teman yang kuceritakan di
atas kecuali si mantan penulis redaksi mengaku belum pernah menulis sebelumnya,
tapi tiba-tiba mampu menuliskan sesuatu yang menarik di sebuah lomba upload video di program Sunsilk Holiday.
Aku yang tidak pandai bergaya dan tidak ekspresif terlalu minder untuk
mengikuti lomba ini. Jadilah aku berkreasi lain dengan menambah caption yang panjang yang semoga menarik
saat meng-upload video. Ternyata langkah
ini diikuti oleh teman-temanku. Hari ini kami sedang menanti pengumuman
pemenang. Masih terus berharap bahwa kamilah orang yang beruntung mendapatkan
kesempatan untuk berlibur ke Korea yang merupakan hadiah dari Sunsilk Holiday,
Amin.
"Kalau usiamu tak mampu
menyamai usia dunia, maka menulislah. Menulis memperpanjang ada-mu di dunia dan
amalmu di akhirat kelak".
Selamat Hari Literasi Internasional, mari kita isi hari-hari ke depan dengan mencoba menulis dan berkomitmen untuk lebih banyak membaca buku.

2 komentar
Love it mbak....
BalasHapusWaaahh.. Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Mau dong diajarin nulis yang puitis gitu 😊
Hapus