Episode Minggu Ini

Senin, 27 Juli 2015 : Kehilangan
Hari pertama masuk kerja setelah cuti lebaran. Episode baru dimulai ketika aku sadar saat memasuki ruang kerja yang lengang. Ya, aku tersadar bahwa dua kakak seniorku telah meinggalkan ruangan ini demi tugas barunya di kantor baru. Dua kakakku itu, Mba Eka dan Mas Nando mendapatkan promosi menjadi Account Representative (AR). Mereka yang digadang-gadang oleh atasan kami sebagai ujung tombak penerimaan negara. Apalah jadinya kami, yang ditinggalkan oleh pegawai terbaik yang menjadi kebanggaan dan tumpuan. Dan apa jadinya pula, aku yang bagaikan anak bungsu, ditinggalkan dua kakak yang selama ini membimbing dan mengayomiku, belum sempat belajar banyak. Sebelumnya aku lebih dulu ditinggalkan oleh kakak pertama, Mas Leo yang mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu ke luar negeri. Aku memang merasa kehilangan kakak-kakak terbaik, namun aku menemukan inspirasi dari mereka. Semoga aku bisa mengikuti jejak-jejak prestasi yang sudah mereka raih.
Perpisahan Mba Eka dan Mas Nando

Meskipun sedih, sendiri, tugas yang biasanya dikerjakan tiga orang harus dituntaskan seorang diri, berat dirasa, but life must go on (ceilaaahhh..). Hari ini harusnya aku menggantikan Mas Nando untuk mengikuti kegiatan penyususnan Laporan Keuangan Semester 1. Namun, karena harus meng-handle pekerjaan rutin, maka aku masih absen dari kegiatan tersebut. Aku pun larut dalam tugas demi tugas. Kesibukan itu mampu menghapus kesepian karena ditinggal oleh dua kakakku. Namun, tidak menghapus episode kehilangan. Sekitar pukul 14.30, hp  ku bordering, tertera nomor rumah di layar. Segera kuangkat. Terdengar suara isak tangis dari Mba Umi (kakak sepupu, bersamanya aku tinggal selama di Jakarta). Mba Umi mengabarkan bahwa bapaknya, Bp Taufik  Affandi telah meninggal dunia. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Dan aku benar-benar kehilangan….
 
Alm Bp Taufik Affandi
Selasa, 28 Juli 2015 : Peran
Mendengar kabar duka itu, Mba Umi memutuskan untuk kembali pulang ke kampung halaman sore itu juga. (Baru sampai Jakarta hari Jum’at, 24 Juli 2015 setelah mudik lebaran). Mba Umi pulang beserta suami dan anak bungsunya. Anak sulungnya masih di kampung untuk menghabiskan libur kuliahnya, anak kedua telah kembali ke pondok pesantren. Jadilah aku ditinggal beserta anak ketiganya yang tidak bisa ikut karena baru saja masuk tahun ajaran baru di sekolahnya.
Malam itu kulewati bersama ponakan yang mengajak ketiga temannya untuk menginap. Inilah episode baru, berperan menjadi ibu asuh untuk ponakan dan ketiga temannya. Saat malam menjelang, memastikan mereka untuk belajar dan tidur tidak terlalu larut. Tengah malam aku terjaga, terlalu khawatir mengemban amanah menjaga anak orang lain. Saat Adzan Subuh berkumandang aku pun segera membangunkannya untuk mengajaknya sholat Subuh berjamaah. Setelah itu mengajari mereka untuk segera merapikan tempat tidur dan membantu merapikan rumah. Saat mereka mandi dan bersiap ke sekolah, aku menyiapkan sarapan. Ahhh,,,, aku menjalankan peran ibu di rumah.
Serasa di penampungan. hihiiiii....

Aktivitasku berjalan seperti biasa. Berangkat kerja, megerjakan tugas rutin membuat Evaluasi Kinerja Penerimaan Negara (terdengar keren bukan???). Dan hari ini aku mendapat tugas menyiapkan bahan presentasi untuk Rapat Pembinaan Eselon 3. Di hari kedua Penyusunan Laporan Keuangan ini aku pun masih absen, karena aku berperan sebagai asrot dalam rapat tersebut. Jadilah seharian terisolir dalam ruang rapat. Disela-sela jam istirahat, teringat peranku di rumah. Segera menyempatkan untuk menelpon ke rumah mengontrol ponakan untuk makan dan sholat pada waktunya.
Suasana Rapat

Rabu, 29 Juli 2015 : Berjuang
Setelah absen dua hari, aku menyempatkan untuk menghadiri acara Penyusunan Laporan Keuangan. Episode baru dimulai. Aku yang belum berpengalaman dalam kegiatan yang diadakan setiap semester ini, tidak sempat belajar dengan kakak-kakak seniorku. Mutasi Mba Eka dan Mas Nando begitu mendadak, dan ternyata mereka pun belum pernah mengikuti kegiatan tersebut. Mas Leo yang rutin mengikuti selama empat tahun itu sekarang sudah jauh, tidak mungkin lagi untuk belajar secara langsung dan mendetail. Jadilah aku seperti anak ilang di tengah-tengah peserta Penyusun Laporan Keuangan yang mewakili Kantor Wilayah Ditjen Pajak seluruh Indonesia. Aku bertanya kepada rekan-rekan satu kantor maupun teman dari kantor lain yang aku kenal. Dan disini aku benar-benar berjuang menyusun laporan penerimaan negara.  

Kamis, 30 Juli 2015 : Larut
Hari ini merupakan hari terakhir penyusunan Laporan Keuangan. Dan pekerjaanku masih berantakan. Perlahan aku pelajari teknis penyusunannya. Dan menjelang sore aku baru mereview pekerjaanku dengan petugas dari kantor pusat. Bolak-balik merevisi pekerjaan, hingga akhirnya menjelang magrib laporan penerimaan negara terselesaikan. Di ruangan ini waktu terasa begitu cepat, aku pun larut dalam pekerjaan. Sampai batas waktu yang ditentukan yakni pukul 20.00, pekerjaanku belum selesai. Karena masih banyak dari kantor lain yang belum selesai juga akhirnya panitia memberikan jam tambahan. Aku merasa bertanggung jawab dengan pekerjaanku di kantor dan peranku di rumah. Karena malam ini dijadwalkan pulang larut, maka kutitipkan ponakan untuk tidur dirumah temannya.
Karena begitu larut dalam penyusunan Laporan Keuangan, aku baru tahu kalau hari ini telah resmi keluar Instruksi Dirjen Pajak mengenai penambahan jam kerja bagi seluruh pegawai di lingkungan kantor pajak, yakni pulang jam 19.00 WIB. Dengan adanya instruksi ini, aku mulai memikirkan apakah terus memaksakan untuk berkarier di kantor ini??? Yang pasti, saat ini aku menjalankan tugasku sebagai wanita karier sekaligus berlajar menjalankan peran sebagai ibu di rumah.

Jum’at, 31 Juli 2015 : Selalu Ada Hikmah
Adzan subuh berkumandang, sungguh mataku masih ingin terpejam, karena tidur baru sebentar. Setelah nyawa terkumpul, segera kujemput ponakan di rumah temannya. Rutinitas pagi pun dimulai. Saat bersiap berangkat ke kantor, mendapat informasi kalau kantor mengalami musibah kebakaran. Sempet ragu untuk berangkat, karena efek mengantuk juga. Namun, karena ada informasi bahwa absensi tetap berjalan normal, maka aku pun memaksakan untuk tetap berangkat karena aku pun punya kewajiban untuk menyelesaikan laporan keuanganku.
Sesampainya di kantor, suasana sangat gaduh. Semua pegawai berkumpul di lapangan dan memenuhi lobby kantor. Aktivitas kerja tidak bisa berjalan karena saluran listrik terputus. Kira-kira pukul 8.30 diinformasikan bahwa kantor diliburkan demi keamanan. Aku tidak langsung pulang karena masih memiliki tanggungan. Setelah ada kesepakan dari tim penyusun Laporan Keuangan bahwa pekerjaan dilanjutkan hari Senin, aku langsung bergegas pulang. Sesampainya di rumah aku bisa bercakap dengan ponakan yang sudah pulang sekolah dan mengobrol dengan tetangga. Aktivitas yang sulit kudapatkan ditengah kesibukan kerja. Aku pun memiliki kesempatan untuk tidur siang. Oh nikmatnya. Selalu ada hikmah dari setiap musibah. Khususnya bagi diriku.

Sabtu, 1 Agustus 2015 : Happy Ending
Libur. Aktivitas di hari libur adalah diawali dengan berolahraga, mengerjakan pekerjaan rumah yang tertunda selama hari kerja daaaannnn saat nya mengajak ponakan jalan-jalan. Setelah merasa bersalah meninggalkannya selama seminggu dengan pulang malam terus, aku menyempatkan untuk menghabiskan waktu bersama ponakan beserta teman-temannya.







Share:

0 komentar