Berlatih Disiplin dari Hal Kecil

Banyak hal yang bisa dijadikan inspirasi untuk meningkatkan kedisiplinan dalam bekerja. Salah satu yang menginspirasi saya adalah pesan moral yang selalu disampaikan oleh Bapak Antonius Krisyanto selaku Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan (DP3), Kanwil DJP Jakarta Khusus dalam pembukaan rapat pembinaan para pegawai di Bidang DP3. Pesan moral tersebut yakni, “Jaga integritas, jangan narkoba, dan bekerjalah dengan ikhlas”. Integritas sebagai salah satu dari lima Nilai Kementerian Keuangan yang perilaku utamanya adalah bersikap jujur, tulus, dan dapat dipercaya sangat penting diimplementasikan dalam pekerjaan sehari-hari, terlebih dalam menjalankan tugas saya sebagai pelaksana di Seksi Data dan Potensi yang salah satu tugasnya adalah menyajikan data dan informasi berdasarkan fakta. Nilai integritas juga dapat diimplementasikan dengan melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Bagi saya, tugas dan pekerjaan adalah sebuah amanah yang pertanggungjawabannya tidak hanya kepada atasan tetapi juga kepada Tuhan.  

Pesan moral yang kedua yaitu untuk menjauhi narkoba yang bahayanya sudah tidak diragukan lagi dalam merusak semua aspek kehidupan. Sedangkan pesan moral yang ketiga adalah himbauan untuk bekerja dengan ikhlas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ikhlas diartikan sebagai bersih hati, tulus hati. Jika dikaitkan dengan Nilai-nilai Kementerian Keuangan, bekerja dengan ikhlas dapat dikategorikan dalam nilai integritas, profesionalisme, dan pelayanan. Jadi pada intinya pesan moral yang disampaikan oleh Bapak Antonius Krisyanto merupakan himbauan untuk mengamalkan nilai-nilai Kementerian Keuangan dalam menjalankan tugas dan pekerjaan sehari-hari.

Untuk bisa mengamalkan Nilai-nilai Kementerian Keuangan dengan baik diperlukan sikap disiplin yang tinggi. Disiplin bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari dalam bekerja, di antaranya datang ke kantor tepat pada waktunya, menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan waktu yang ditentukan, dan yang terpenting adalah sikap konsisten dalam menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang berlaku. 

Langkah yang bisa diterapkan sebagai usaha dalam meningkatkan kedisplinan di antaranya adalah manajemen waktu, yakni melakukan segala sesuatu dengan terorganisasi dan tepat waktu. Langkah kongkritnya adalah membiasakan untuk menulis to-do list yang manfaaatnya adalah membantu dalam perencanaan penyelesaian tugas yang lebih jelas dan terarah. Saya berusaha membiasakan diri meluangkan waktu sebelum pulang meninggalkan kantor untuk menulis apa yang harus dikerjakan esok hari. Sehingga di hari berikutnya saat sampai di kantor saya bisa langsung mengerjakan tugas dengan berpedoman pada to-do list tersebut sehingga diharapkan pada hari itu bisa lebih produktif, efektif, dan meminimalisir kebiasaan menunda pekerjaan. Dengan to-do list saya juga bisa mengerjakan tugas berdasarkan urutan skala prioritas.

Dalam hal manajemen waktu, penting untuk memanfaatkan waktu seproduktif mungkin. Sebagai contoh saat pekerjaan sudah terselesaikan dan masih ada waktu luang, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, misalnya mempelajari sesuatu yang baru yang dapat menunjang pekerjaan. Dalam menjalankan tugas pengolahan dan penyajian data dan informasi perpajakan, saat ini masih sangat bergantung pada aplikasi Micrsoft Excel sehingga saya harus menggali informasi tentang formula-formula serta tips dan trik bagaimana cara mengolah dan menyajikan data yang informatif dan menarik. Selain itu, diperlukan juga pengetahuan terkait perpajakan. Di era digital seperti sekarang ini, di mana informasi dan ilmu pengetahuan begitu mudah didapat melalui internet, maka saya pun berusaha untuk memaksimalkan media tersebut untuk belajar. Jika penggalian informasi dari media internet masih mengalami kendala, saya akan meminta bimbingan/arahan langsung dari atasan ataupun diskusi dengan rekan kerja yang lebih memahaminya. 

Hal lain yang tidak kalah penting dalam efisiensi waktu adalah fokus. Fokus di sini mencakup fokus dalam menyelesaikan satu tugas sebelum tugas lainnya dan fokus terhadap instruksi/arahan dari atasan sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan. Fokus erat kaitannya dengan konsentrasi, dan konsentrasi harus dijaga selama jam kerja. Dalam beberapa riset disebutkan bahwa untuk menjaga agar tetap konsentrasi selama seharian di kantor diperlukan istirahat secara berkala. Waktu istirahat tersebut dimanfaatkan untuk menenangkan pikiran. Saya membiasakan diri untuk membuat jadwal istirahat. Istirahat yang pertama  sekitar jam 9 atau jam 10 pagi, istirahat kedua yaitu saat jam makan siang dan istirahat ketiga sekitar jam 3 sore. Waktu istirahat tersebut saya gunakan untuk beribadah karena saya mempercayai bahwa dengan ibadah pikiran bisa kembali tenang dan siap untuk melanjutkan pekerjaan. Kegiatan lain yang biasa dilakukan saat istirahat jam makan siang adalah menikmati makanan sambil berbincang dengan rekan kerja. Pada intinya istirahat yang cukup menjadikan otak siap untuk bekerja kembali. 

Kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa dilakukan dalam kaitannya menajeman waktu di antaranya adalah merapikan dokumen/file pekerjaan sehingga memudahkan dalam pencarian dan efisiensi waktu pelaksanaan tugas. Hal ini sekaligus mengamalkan salah satu budaya DJP yaitu berkas aman, pulang nyaman. Untuk kemudahan pertukaran data dengan rekan kerja, dokumen/file juga disarankan untuk disimpan dalam sharing folder dengan tetap memperhatikan tingkat kerahasiaan data sehingga data tersebut aman dari pihak-pihak yang tidak berhak mengaksesnya. 

Selain manajemen waktu yang sudah dijelaskan di atas, hal lain yang berpengaruh terhadap kedisiplinan saya adalah lingkungan kerja yang nyaman baik secara fisik maupun psikologis. Nyaman secara fisik berarti lingkungan yang terjaga keamanan, kebersihan, kerapihan, dan keindahan sehingga membuat nyaman untuk berlama-lama di kantor, sedangkan nyaman secara psikologis adalah hubungan yang terjalin dengan baik antar sesama rekan kerja maupun dengan atasan. 

Dari uraian diatas saya tidak tahu apakah yang saya lakukan sudah mencerminkan sikap disiplin kerja yang sesuai dengan paramater Kementerian Keuangan. Dan apakah saya sudah memiliki sikap disiplin yang tinggi dalam bekerja? Sesungguhnya hanya mereka yang berada di lingkungan kerja yang sama dengan saya yang mampu menilai. Mereka yang lebih mengetahui seperti apa kinerja saya sehari-hari. Tugas saya adalah berusaha untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Saya berusaha menerapkan bahwa bekerja adalah ibadah, sehingga setiap apapun yang saya lakukan harapannya menjadi sebuah amalan kebaikan dengan harapan amal tersebut dapat memberikan manfaat kepada sesama. Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas seharusnya tidak lagi memperhitungkan penilaian dari orang lain ataupun instansi karena jika dikaitkan dengan ibadah maka harapan  terbesar adalah imbalan dari Tuhan. Seperti dalam ajaran agama yang saya yakini, sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada orang lain. 

Selain berusaha memberikan manfaat di lingkungan kerja, saya juga berusaha agar dapat memberikan manfaat kepada masyarakat. Saat Kementerian Keuangan mengadakan program Kemenkeu Mengajar, sebuah program mengajar selama sehari di Sekolah Dasar dalam rangka mengenalkan peran Kementerian Keuangan dalam upaya menjaga perekonomian negara, saya turut berpartisipasi sebagai seorang relawan pangajar. Kegiatan ini mengusung semangat kesukarelaan, panitia tidak memungut biaya apapun pada sekolah dan pegawai yang mengikuti Kemenkeu Mengajar juga tidak akan mendapatkan pembayaran, baik honor maupun  biaya perjalanan dinas. Saya mendaftarkan diri  untuk menjadi relawan pengajar dan mendapat kesempatan bergabung di SD Inpres Klaligi, Sorong, Papua Barat pada tahun 2016 dan di SDN Menteng 03 Pagi, Jakarta Pusat pada tahun 2017. Saya berharap di tahun-tahun berikutnya tetap dapat berpartisipasi di program yang sama ataupun program lain dalam upaya meningkatkan kepedulian sosial di masyarakat luas dan mengenalkan semangat nilai-nilai Kementerian Keuangan. Dan yang terpenting adalah selalu berusaha untuk meningkatkan kedisiplinan dalam mengamalkan Nilai-nilai Kementerian Keuangan baik di dalam maupun di luar instansi. Karena kedisiplinan harus dibangun dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari yang kecil, serta dimulai saat ini.

*****
Tulisan di atas merupakan esai yang diminta SubBagian Kepegawaian. Seharusnya esai yang diminta ber-tema-kan "disiplin" yang merupakan salah satu syarat  dalam pemilihan pegawai teladan di lingkungan Kementerian Keuangan.

Ini merupakan pengalaman menulis yang  sulit bagi saya. Dalam esai bertema disiplin tersebut saya tidak membahas tentang jam di mesin absen, tidak mungkin juga menceritakan hobi saya yaitu "disiplin" memanfaatkan flexi time yang diberikan khusus kepada pegawai di DKI. Jika ada pembaca yang pernah menjadi rekan kerja satu kantor dengan saya pasti paham maksudnya. Heeeeee

Share:

0 komentar