Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita
2 Mei 2016,
"Hari Pendidikan Nasional kita rayakan sebagai hari kesadaran tentang pentingnya kualitas manusia", dikutip dari pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016.
Mengutip kalimat itu bukan berarti aku mengikuti kegiatan upacara bersama bapak menteri. Aku masih setia dengan meja kerjaku saat beliau berpidato, sedang memantau dan berusaha mengamankan penerimaan negara. Inilah jalan yang sudah ditentukan Allah untukku. Di tahun 2013, saat aku memutuskan untuk mengikuti seleksi CPNS, aku mendaftar di Kementerian Keuangan karena lebih dipropokatori oleh adekku (hee... ini jujur loh Dek) dan karena gagal mendaftar di LIPI (Lambaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dikarenakan aku yang terlalu malas untuk menyiapkan proposal penelitian di awal pendaftaran online (dan kini, di gedung itu terkadang aku hanya numpang makan siang bersama teman-teman). Dan juga gagal saat mencoba melamar menjadi Perancang Program Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena kurangnya persiapan saat Tes Kemampuan Bidang (baru tahu informasi tes jam 7 pagi untuk jadwal tes jam 1 siang), aku tak sempat membuka buku-buku perkuliahan (yang mana aku sudah mulai melupakan teori-teori "bahasa mesin" itu). Jadilah kini aku menjadi salah satu Pelaksana di Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan yang tidak jauh-jauh dari mantra "pengamanan penerimaan negara". Rutinitas keseharian yang lebih sering berhadapan dengan layar monitor yang dipenuhi angka-angka, data perpajakan yang tidak ada habisnya untuk "diolah" agar menjadi uang negara, membuatku rindu rutinitasku yang dulu (sebelum bergabung dengan instansi yang sekarang), berinteraksi dan berkomunikasi, berbagi ilmu dan pengalaman di ruang praktek laboratorium komputer.
Kerinduan suasana kelas, kegiatan belajar-mengajar, mungkin sangat terkait dengan doa dari seorang ibu. Mamaku yang saat gadis memimpikan untuk memiliki suami yang berprofesi seorang guru kandas sudah, karena Bapak hanyalah seorang guru kehidupan bagi kami, kedua anaknya. Impian mama untuk memiliki suami seorang guru rupanya berganti dengan menginginkan (terlafal dalam doanya) agar kelak anaknya bisa menjadi guru. Diantara kami berdua, sepertinya doa itu lebih mengarah kepadaku. Aku sangat suka dengan dunia pendidikan. Bahkan sejak di bangku sekolah, teman-teman banyak yang menilai tulisan tanganku mirip tulisan guru. Ah, aku teringat juga saat di bangku SMP aku pernah menuliskan cita-cita ingin menjadi guru dengan alasan ingin mencerdaskan kehidupan bangsa (sangking bingungnya mencari alasan, akhirnya mengutip kalimat di pembukaan UUD 1945, karena sebelumnya pernah bercita-cita menjadi bidan namun dipermalukan oleh keadaan, aku sangat takut dengan obat dan jarum suntik saat itu).
Kini, meskipun aku tidak berprofesi menjadi guru, tapi aku masih suka dengan suasana kelas, belajar dan mengajar. Meskipun tidak secara formal, aku melibatkan diri di dunia pendidikan, diantaranya:
Bergabung dengan komunitas 1000 Guru Tangerang, mengajar di desa Rajeg, pelosoknya Tangerang.
Menjadi relawan pengajar di Kelas Inspirasi Kebumen dan Tasikmalaya.
| Kelas Inspirasi Tasikmalaya |
Terlibat dalam kegiatan belajar di rumah singgah Laskar Pendidikan, Jakarta.
Semoga aktivitas ini bisa mengobati kerinduan akan suasana kelas, belajar dan mengajar dan bisa mengaplikasikan apa yang sudah dituliskan semasa SMP dulu dan semoga langkah kecil ini sesuai dengan tema hari pendidikan kali ini, "Nyalakan Pelita, Terangkan Cita-Cita". Dan semoga amal yang kecil ini menjadi sebuah amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah sebagaimana sabdanya:
"Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang
menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang
menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu
akan celaka” (HR. Baihaqi).



0 komentar