Peluang Usaha

Suatu hari di ruang kelas DTSD (Diklat Teknis Subtantif Dasar) Pajak II 2014...

Hari pertama diklat diawali dengan perkenalan antar peserta dan widyaiswara. Biodata peserta dituliskan dalam selembar kertas. Selain data diri, peserta juga diminta menuliskan harapan lima tahun yang akan datang. Kami membacakan biodata satu persatu. Saat tiba giliranku membacakan biodata, yang merupakan urutan ketiga (berdasarkan absen urut abjad), widyaiswara berkomentar mengenai harapan lima tahunku. Saat itu aku menuliskan harapan "memiliki toko kue". "Simple, spesifik, saya suka itu. Semoga tercapai", komentar sang widyaiswara. Rata-rata peserta lain berharap bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan kenaikan karier.

Alasan  menuliskan harapan itu berawal dari sebuah keinginan untuk memajukan bisnis kue yang dijalankan oleh kakak sepupuku, sebut saja Mba Umi. Setiap hari Mba Umi membuat lontong isi (arem-arem), donat kentang dan martabak telor. Terdengar sederhana, tapi jangan salah, sekali coba bisa-bisa ketagihan lohh... Ini terbukti dari komentar para pelanggannya. 
Niatan untuk memperkenalkan produk kue Mba Umi pun awalnya "iseng-iseng berhadiah". Saat itu karena tidak sempat sarapan, jadi aku bawa bekal berupa arem-arem, donat dan martabak. Itu sudah lebih dari cukup sebagai menu sarapanku. Selain aku makan sendiri bekalku, aku pun menawarkan kepada rekan kerja di kantor. Seperti kubilang tadi, sekali dicoba bisa ketagihan. Jadi sampai sekarang teman-teman di kantor suka memesan donat ayyummm/donat alum/donat arum, arem-arem arum,dan martabak aromatik. Itu brand yang diberikan teman-teman untuk kue-kue yang aku jajakan. 
Sukses memasarkan produk kue Mba Umi, aku pun melebarkan sayap (agak lebay bahasanya..) dengan menawarkan produk yang sedang dipasarkan oleh teman kuliah, yaitu keripik singkong dan ranting keju. Cemilan sehat yang katanya non MSG. Produk ini pun lumayan menarik perhatian teman-teman di kantor sebagai "solusi baru" cemilan di kantor.

Masih terus berusaha menumbuhkan jiwa bisnisku, sampai akhirnya memutuskan untuk berjualan baju lebaran. Berjualan baju lebaran sebenernya sudah aku jalankan saat lebaran tahun 2013. Saat itu aku hanya berbelanja di Pasar Tanah Abang, lalu aku kirimkan ke temanku yang ada di Kebumen yang bersedia menjajakan baju tersebut di kampung. Saat itu aku menilai berhasil untuk bisnis pertamaku. Setelah absen di lebaran tahun 2014 karena saat itu sibuk dengan Diklat Prajabatan, kini menjelang lebaran tahun 2015 aku berniat untuk berjualan kembali. Namun, saat ini yang menjajakan adalah mamaku sendiri. Kembali lagi ke niat awal "menumbuhkan jiwa wirausaha" dengan harapan menjadi keluarga yang mandiri secara ekonomi (Amin). Kami sekeluarga berbagi tugas. Aku bertugas berbelanja di Pasar Tanah Abang, adikku yang memiliki jadwal pulang kampung setiap bulan aku beri tugas sebagai kurir. Karena masih kecil-kecilan jadi masih terlalu sayang jika harus mengeluarkan ongkos kirim melalui jasa pengiriman barang. "Biar pulang kampungku bermanfaat dan demi mendukung mba dan mama berdagang", komentar adikku saat diberi mandat sebagai kurir. Sebagai staf pemasaran yaitu mamaku yang lumayan memiliki jaringan sesrawungan (pergaulan) yang lebih luas di kampung. Dan bapak tetap sebagai kepala keluarga yang selalu sedia mengayomi dan mendukung kami sekeluarga.

Saat berbelanja ke Tanah Abang aku mengajak serta kakak sepupu dan keponakan. Aku akan meminta pendapat  mereka mengenai model baju yang akan dibeli. Kakak sepupu mewakili selera ibu-ibu dan keponakanku mewakili selera model baju anak remaja. Karena saat kulakan (belanja dengan tujuan untuk dijual lagi), kita harus melihatnya dari perspektif pembeli. Meskipun sudah meminta pendapat dari kakak sepupu dan koponakan, yang artinya sudah melibatkan orang lain saat kulakan, aku pun masih sempat mendapat masukan dari mama yang ditampung dari permintaan para pembeli di kampung. Katanya mereka memesan warna baju yang lebih cerah lagi. Kebetulan aku, kakak sepupu dan keponakanku menyukai warna yang kalem. Ternyata orang-orang di kampungku sana lebih suka yang cerah dan bercorak.

Berikut adalah edisi kulakan ke Tanah Abang yang kedua kalinya. Semoga akan ada edisi kulakan selanjutnya seiring lancarnya usaha berdagang di kampung.







Berharap suatu saat memiliki kios seperti gambar diatas yang akan dibangun di Kebumen. Mengapa harus di Kebumen? Sekali lagi ingin mewujudkan keluarga wirausaha terutama untuk orang tua, sebagai aktivitas mengisi waktu luang di masa tua. Selain itu juga karena teman-teman di Jakarta sudah banyak yang memiliki bisnis online jadi aku memutuskan untuk mencari pasar offline di Kebumen. Meski setiap orang sudah dijamin rizkinya masing-masing, ini merupakan sebuah ikhtiar dalam menjemput rizki. Lantas masih kurang kah gaji sebagai PNS Ditjen Pajak (yang ramai di pemberitaan mengenai kenaikan gaji besar-besaran) ??? Hemmm,,,, kembali ke niat awal....




Semangat berbisnis....!!!!

Share:

0 komentar